Mini Book Sosiologi Komunikasi
KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT. yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang
senantiasa memberi rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat serta
salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat. Penulis sangat bersyukur karena dapat
menyelesaikan tugas mini book ini. mini book ini dibuat seringkas mungkin untuk memudahkan pembaca mempelajari dan memahami setiap materi yang telah dijelaskan.
Dalam penyelesaian mini book ini, saya
megucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak
Abu Amar yang telah mengajar mata kuliah Sosiologi Komunikasi.
2. Kedua
orang tua yang selalu mendukung saya.
3. Teman-teman
yang memberi bantuan dan dukungan untuk tugas makalah ini.
Akhiru
kalam, wassalamualaikum wr.wb
Sidoarjo, 15 Juni 2021
Penulis
Daftar Isi
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I SOSIOLOGI KOMUNIKASI......................................................... 1
A. Pengertian Sosiologi Komunikasi............................................. 1
B. Tokoh-Tokoh Sosiolodi dan Lahirnya Sosiologi 1
C. Ruang Lingkup Sosiologi Komunikasi..................................... 2
D. Teori Sosiologi Komunikasi...................................................... 3
E. Konsep Penting Dalam Sosiologi Komunikasi........................ 3
BAB II SISTEM KOMUNIKASI, RELASI, KOMUNIKASI
ANTAR
PERSONAL DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL ……………….4
A. Pengertian Sistem Komunikasi.................................................. 4
B. Bentuk-Bentuk Informasi........................................................... 4
C. Contoh Peralatan Komunikasi................................................... 4
D. Pengertian Sistem Jaringan........................................................ 4
E. Pengertian Komunikasi dan Relasi............................................ 4
F. Pengertian dan Bentuk Komunikasi Antarpersonal 5
BAB III RELASI MASSA MELALUI MEDIA
MASSA......................... 6
A. Cara Memanfaatkan Media Massa............................................ 6
B. Komunikasi Massa....................................................................... 6
C. Komunikasi Massa dan New Media........................................... 8
D. Fungsi Media Massa.................................................................... 8
E. Relasi Ruang Publik dan Pers Menurut Habernas 9
BAB IV TEORI KOMUNIKASI KONTEMPORER............................. 10
A. Teori Komunikasi..................................................................... 10
B. Teori Komunikasi Massa......................................................... 10
C. Teori Komunikasi Kontemporer............................................ 11
D. Teori Stimulus Organism Response (SOR)........................... 14
BAB V PERILAKU KOLEKTIF DAN
PENGELOMPOKAN
MANUSIA......................................................................................... 15
A. Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial................................... 15
B. Teori Perilaku Sosial Kolektif................................................. 18
C. Teori Perilaku Kolektif Harbert Bluemer............................. 18
D. Penjelasan Kelompok Sosial.................................................... 19
E. Ilmu Sosial................................................................................. 21
BAB VI PERUBAHAN SOSIAL (SOCIAL
CHANGE)......................... 24
A. Perubahan Sosial...................................................................... 24
B. Teori Perubahan Sosial............................................................ 24
C. Teori Klasik dan Modern........................................................ 25
D. Bentuk Perubahan Sosial........................................................ 27
E. Ciri-Ciri Perubahan Sosial...................................................... 28
F. Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Sosial 28
G. Dampak Perubahan Sosial...................................................... 30
BAB VII PERUBAHAN KEBUDAYAAN
(CULTURAL CHANGE) 31
A. Pengertian Perubahan Kebudayaan...................................... 31
B. Bentuk Perubahan Kebudayaan............................................. 31
C. Faktor Terjadinya Perubahan Kebudayaan......................... 32
D. Dampak Perubahan Kebudayaan.......................................... 33
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 34
BAB 1
SOSIOLOGI KOMUNIKASI
A. Pengertian
Sosiologi Komunikasi
Sosiologi
komunikasi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang ilmu komunikasi yang
ditinjau dari segi sosiologis atau kemasyarakatan. Menurut Soerjono Soekanto,
sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi mempelajari interaksi
sosial. Interaksi sosial merujuk pada suatu hubungan atau komunikasi yang
menimbulkan proses saling pengaruh-mempengaruhi antara para individu, individu
dengan kelompok maupun antar kelompok, juga memiliki kaitan dengan public
speaking yaitu bagaimana seseorang berbicara kepada publik.
Secara komprehensif sosiologi komunikasi
mempelajari tentang interaksi sosial dengan segala aspek yang berhubungan
dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi) itu
dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari
interaksi tersebut, sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di
masyarakat yang didorong oleh efek media berkembang serta konsekuensi sosial
macam apa yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dari perubahan yang
didorong oleh media massa.
B. Tokoh-Tokoh
Sosiologi dan Lahirnya Sosiologi :
Dalam sosiologi komunikasi ada beberapa
tokoh, yaitu Karl Marx, Emile Durkheim, Talcot Parson, Robert K. Merton, Jurgen
Habermas, John Dewey. Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari
akar tradisi pemikiran Karl Marx, gagasan awal pemikiran Marx tidak pernah
lepas dari pemikiran Hegel. Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Karl
Marx, bahkan Karl Marx saat masih muda menjadi seorang yang idealism. Karena
pemikiran radikal Hegel, Karl Marx pada saat tua menjadi menjadi seorang yang
materialism.
Menurut Ritzer, pemikiran Hegel yang paling
utama dalam melahirkan pemikiran-pemikiran tradisonal konflik dan kritis adalah
ajarannya tentang dialektika dan idealisme. Dialektika adalah cara berpikir dan
citra tentang dunia. Dialektika menekankan arti penting dari proses, hubungan
dinamika, konflik dan kontradiksi. Di sisi lain, dialektika adalah pandangan
tentang dunia bukan tersusun dari konflik yang statis tetapi teridiri dari
proses, hubungan, dinamika konflik, dan kontradiksi. Pemahaman dialektika
tentang dunia semacam inilah yang kemudian melahirkan gagasan tentang
komunikasi seperti yang disampaikan oleh Jurgen Habernas dengan Tindakan
komunikatif (interaksi).
Habernas menanamkan gagasan sebagai
rekonstruksi materialism historis. Habernas bertolak pemkiran dengan Marx, ia
mengatakan bahwa Marx telah gagal dalam membedakan antara komponen 2 analitik
yang berbeda yaitu kerja dan analitik sosial. Selama tahun 1970-an, Habernas
memperbanyak studi tentang ilmu-ilmu sosial dan mulai menata ulang teori kritik
sebagai teori komunikasi. Sumbangan pemikiran juga diberikan oleh John Dewey,
yang sering disebut dengan the first philosopher of communication itu
dikenal hingga kini dengan filsafat pracmatic-nya, yaitu suatu keyakinan
bahwa sebuah ide itu benar jika ia berfungsi dalam praktik.
Aliran pemikiran yang melahirkan paradigma
dalam sosiologi komunikasi yaitu, Kajian pemikiran dan sumbangan Auguste Comte,
Emile Durkheim, Talcot Parsons, dan Robert K. Merton merupakan sumbangan
paradigma fungsional bagi lahirnya teori komunikasi yang beraliran
struktural-fungsional. Sedangkan sumbangan pemikiran Karl Marx, Jurgen
Habernas, dan John Dewey menyumbangkan paradigma konflik bagi lahirnya teori
kritis yang beraliran konflik-kritis.
C. Ruang
Lingkup Sosiologi Komunikasi.
1. Telematika
dan realitas : Segala informasi dapat berupa telematika dan realitas yang
menyangkut pada teknologi media, komunikasi hingga persoalan konfergensi yang
ditimbulkan. Perkembangan objek ini sangat berpengaruh pada perkembangan media
massa yang memberikan efek pada masyarakat.
2. Efek media :
Efek media massa ini merupakan perangkat kehidupan masyarakat yang turut
mengubah pola hidup masyarakat. Pada awalnya bersifat agraris lalu kemudian
berubah menjadi kota.
3. Normal
sosial baru : Dalam efek media massa ini, masyarakat akan mengalami pola hidup
yang mulai bergeser. Karena dampak dari teknologi dan semakin majunya
teknologi, sehingga masyarakat akan mengalami pergeseran norma-norma sosial
hingga menjadi norma-norma baru yang secara tidak langsung akan berlaku.
4. Cybercommunity
: Munculnya norma-norma baru juga membuat
setiap individu ini bergerak pula, bahkan masyarakat juga akan bergeser
membentuk suatu komunitas yang berteknologi atau berkomunikasi melalui media
teknologi.
5. Perubahan
sosial dan komunikasi : Perubahan-perubahan pada masyarakat akan semakin terasa
ketika yang jauh semakin dekat, dan yang dekat semakin jauh.
6. Hukum bisnis
media : Faktor perubahan sosial dan komunikasi akhirnya memunculkan hukum atau
Undang-Undang IT, hal inilah sebagai contoh salah satu norma-norma baru yang
muncul akibat dari efek media massa.
D. Teori
Sosiologi Komunikasi
Deddy Mulyana membagi teori sosiologi
komunikasi ke dalam 3 teori :
1. Teori
perbandingan sosial : Teori ini berasumsi bahwa dalam kehidupan kita selalu membandingkan
diri kita dengan orang lain dan kelompok kita dengan kelompok lain. Perbandingan
ini akan melahirkan penilaian kepada diri kita sendiri dalam berhadapan dengan
orang lain.
2. Teori
percakapan kelompok : Teori ini berpendapat bahwa percakapan kelompok sangat
berkaitan produktifitas kelompok atau upaya untuk mencapai melalui masukan dari
anggota (member input), variabel perantara (mediating variables),
dan keluaran dari kelompok (group output). Masukan atau input
dari kelompok dapat berupa perilaku, interaksi dan harapan yang bersifat
individual. Output kelompok adalah segala pencapaian atau prestasi yang
bisa berbentuk perilaku, interaksi dan harapan yang mengarah pada
produktivitas, semangat dan keterpaduan (group achievement).
3. Teori
pertukaran sosial : Teori ini menjelaskan bahwa hubungan manusia melibatkan
pertukaran jasa dan barang seperti biaya (cost) dan imbalan (reward)
ketika berinteraksi satu sama lain dalam lingkup kehidupan sosial. Seseorang
melakukan Tindakan sosial karena mengharap imbalan.
E. Konsep
Penting Dalam Sosiologi Komunikasi
1.
Community atau masyarakat : Menurut Selo Soemardjan adalah orang-orang yang hidup
bersama yang menghasilkan kebudayaan.
2.
Teknologi telematika : Telematika
(telekomunikasi dan informatika) lebih kepada penyebutan secara bersama-sama
namun sebenarnya yang dimaksud teknologi informasi yang digunakan di media
massa serta teknologi telekomunikasi yang umumnya digunakan dalam bidang
komunikasi lainnya.
3.
Communication. : Komunikasi menyangkut persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan
substansi interaksi sosial orang-orang dalam masyarakat, termasuk konten
interaksi (komunikasi) yang dilakukan secara langsung maupun dengan media.
BAB II
SISTEM KOMUNIKASI, RELASI, KOMUNIKASI ANTARPERSONAL DAN KOMUNIKASI
INTERPERSONAL
A. Pengertian Sistem Komunikasi.
Sistem komunikasi merupakan peralatan yang digunakan dan mampu
untuk menghubungkan seseorang dengan orang lain yang terpisah jarak dan waktu.
B.
Bentuk-Bentuk Informasi.
Dalam informasi terdapat beberapa bentuk yaitu :
1. Informasi audio : penyampaian informasi berupa pesan suara.
2. Informasi visual : penyampaian informasi berupa pesan gambar atau video.
3. Informasi audio visual : penyampaian informasi berupa perpaduan atau
gabungan pesan suara dan gambar.
4. Informasi teks : penyampaian informasi berupa pesan tulisan atau teks.
C. Contoh Peralatan
Komunikasi.
contoh peralatan
komunikasi ada 6 yaitu :
1. Telepon : alat komunikasi modern yang
digunakan untuk menyampaikan informasi berupa suara (audio).
2. Faksimile :
mesin faks atau faksimile adalah alat komunikasi yang digunakan untuk mengirim
dokumen dengan cara melakukan scanning atau copy.
3. Radio : alat
komunikasi searah yang mampu menerima sinyal suara yang dipancarkan oleh pemancar
radio.
4. Televisi : media komunikasi yang
berfungsi sebagai penerima siaran berupa audio visual.
5. Handphone :
perangkat komunikasi canggih karena kemampuannya dalam menggabungkan beberapa
alat sekaligus.
6. Laptop : laptop merupakan sarana
portable yang juga memiliki fungsi yang sama dengan handphone.
D.
Pengertian Sistem Jaringan.
Sistem
jaringan digunakan untuk menghubungkan 2 atau lebih computer sehingga dapat
bertukar dan berbagi data. Sistem jaringan juga berlaku pada ponsel dengan memanfaatkan
jaringan internet. Contoh dari perangkat sistem jaringan ini adalah server,
client, router, dan modem.
E.
Pengertian Komunikasi dan
Relasi
Komunikasi merupakan proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan sarana
tertentu, tujuan tertentu dan memiliki dampak tertentu pula. Komunikasi dapat diartikan seseorang
atau beberapa orang, kelompok, organisasi, masyarakat menciptakan dan
menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Sedangkan,
Relasi
merupakan upaya menjalin hubungan dengan orang lain baik itu clien, rekan
kerja, bawahan maupun atasan sehingga sangat membutuhkan keberhasilan pimpinan
dan organisasi yang dipimpin.
F.
Pengertian dan Bentuk Komunikasi
Antarpersonal.
Komunikasi antarpersonal adalah proses dimana satu
orang merangsang makna pesan verbal dan non-verbal yang sudah ada dalam pikiran
orang lain. Konteks
komunikasi antar personal banyak membahas tentang bagaimana suatu hubungan
dimulai, bagaimana mempertahankan hubungan dan keretakan suatu hubungan.
Komunikasi antar personal adalah bila ada dua orang atau lebih melakukan
interaksi yang menunjukkan adanya hubungan yang jelas. Bentuk komunikasi
antarpersonal adalah :
1.
Inescapable : komunikasi antar personal tidak dapat
dihindari.
2.
Irreversible :
komunikasi antar personal tidak dapat ditarik kembali.
3.
Complicated : komunikasi antar personal itu rumit
karena melinatkan diri seseorang yang harus dipersepsi baik oleh diri sendiri
maupun orang lain.
4.
Contextual : komunikasi antar personal kontekstual
seperti konteks psikolog, budaya, lingkungan dan konteks hiburan.
G.
Agar Komunikasi Antarpersonal Efektif,
Hal yang Harus Dilakukan Ketika Berkomunikasi Antar Pribadi Menurut Joseph
DeVito Adalah :
1. positiveness atau
berpikir positif : Seseorang harus memiliki
perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif
berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi
yang efektif.
2. Openness atau keterbukaan : Kemauan menanggapi dengan senang hati informasi
yang diterima di dalam menghadapi hubungan antarpribadi.
3. Supportiveness atau
dukungan : Situasi yang
terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif.
4. Equality atau
kesetaraan : Komunikasi antar pribadi akan lebih efektif bila suasananya
setara.
5.
Emphaty atau empati : kemampuan seseorang
untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu,
dari sudut pandang orang itu.
BAB III
RELASI MASA MELALUI MEDIA MASSA
A. Cara Memanfaatkan
Media Sosial.
Generasi C adalah orang yang senantiasa terhubung dengan internet.
Generasi C tidak dibatasi oleh usia, orang-orang yang berusia dari 15-70 tahun
dapat digolongkan dalam klasifikasi generasi C ini bila mereka aktif mengguakan
internet setiap hari. Penggunaan huruf C ditujukan untuk mendiskripsikan
beberapa karakter generasi ini yaitu connected, communicating, computerize,
community oriented, content centric dan cashless. terdapat 7 cara
memanfaatkan media sosial yaitu :
1. Mempromosikan
bisnis : Generasi C usia produktif biasanya menggunakan media sosial untuk
mempromosikan dagangannya. Dengan adanya media sosial ini baik bisnis online
maupun offline dapat berjalan.
2. Menyimpan
portofolio : Jika bekerja di indudtri kreatif, maka menggunakan media sosial
untuk menyimpan portofolio. Menyampaikan portofolio di media sosial lebih mudah
diakses dan tidak rentan kehilangan data-data pribadi yang penting.
3. Menjalin
relasi : Menjalin relasi di media sosial tidak selalu buruk, bisa mengenla
lebih banyak public figure, rekan kerja atau teman baru.
4. Mencari
referensi belanja online : Media sosial bisa digunakan untuk mencari
referensi belanja online. Tidak mengherankan jika generasi C sering scrolling
media sosial untuk membeli produk.
5. Mendapat
informasi valid dan update : Orang generasi C selalu memanfaatkan media
sosial untuk mengakses informasi terkini secara real time.
6. Memperoleh
berbagai inspirasi : Dalam media sosial banyak sekali inspirasi yang bisa
didapat. Banyak referensi yang bisa digunakan.
7. Mengabadikan
momen berharga : Generasi C yang bijak tidak memanfaatkan media sosial untuk
sekedar pamer, lebih dari itu ada keinginan mengabadikan momen berharga yang
bisa dikenang di masa depan.
B. Komunikasi
Massa.
Komunikasi
massa adalah pesan yang disampaikan oleh komunikator dengan menggunakan media
massa yang terlembaga bersifat satu arah kepada komunikan. Selama pesan itu
disampaikan kepada masyarakat luas dengan menggunakan media itu berarti
komunikasi massa. Menurut George Gebner, komunikasi massa adalah produksi dan
distribusi berbasis teknologi dan kelembagaan dari aliran masyarakat industry
massa yang paling luas dan berkelanjutan. John Robert Bittner mengungkapkan
bahwa pesan yang disampaikan melalui media massa ke massa yang banyak.
Jalaluddin Rakhmat mengungkapkan bahwa komunikan yang ditujukan kepada massa
yang menggunakan media elektronik khususnya televisi. Televisi digunakan karena
pada tahun 1991 satu-satunya media yang digunakan untuk menyampaikan komunikasi
hanya televisi.
Ciri-ciri komunikasi massa yaitu komunikator
dalam emnyampaikan komunikasi massa atau terlembaga, komunikan bersifat heterogen,
pesan bersifat umum, karena pesan yang disampaikan untuk masyarakat yang
bersifat heterogen. Pesannya tidak akan sangat spesifik untuk satu indivudu,
sifatnya umum, bersifat satu arah dan pasti efeknya delay, menimbulkan
keserempakan, mengandalkan alat teknis, karena komunikasi massa tidak bisa
tanpa media, controlled by gatekeeper yaitu orang yang berkewajiban
untuk menentukan pesan itu boleh disampaikan pantas disampaikan atau justru
sebaliknya kepada khalayak. Sedangkan menurut Wright, komunikasi massa memiliki ciri-ciri yaitu diarahkan
pada khalayak yang relatif lebih besar, heterogen, dan anonym, pesan-pesannya mewakili
usaha banyak orang yang berbeda dan disampaikan secara terbuka, sering dapat
mencapai kebanyakan khalayak secara serentak, bersifat sekaligus, komunikatornya
cenderung berada atau bergerak dalam organisasi yang kompleks, yang melibatkan
biaya besar dan bekerja lewat suatu organisasi yang rumit.
Fungsi
komunikasi yang dijelaskan oleh pakar komunikasi yaitu :
1.
Informasi
: Fungsi informasi merupakan fungsi paling penting yang terdapat dalam
komunikasi massa. Kompenen paling utama untuk mengetahui fungsi informasi ini
adalah berita-berita yang disajikan.
2.
Fungsi
pendidikan : Media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayak (mass
education), karena banyak menyajikan hal-hal yang sifatnya mendidik.
3.
Fungsi
Memengaruhi : Fungsi memengaruhi dari media massa terdapat pada tajuk atau
editorial, features, iklan artikel, dan sebagainya. Khalayak dapat terpengaruh
oleh iklan-iklan yang ditayangkan televisi maupun surat kabar.
4.
Fungsi
Hiburan : Fungsi hiburan pada media elektronik menduduki posisi yang paling
tinggi dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain karena masyarakat kebanyakan
menggunakan menggunakan televisi sebagai media hiburan.
Komponen dalam komunikasi massa ada 7 yaitu Komunikator, Pesan,
Media, Komunikan, Gatekeeper, Noise,.Feedback. Menurut
Husaini, setiap proses komunikasi melibatkan sejumlah komponen yaitu
komunikator (penyampai pesan), pesan (pernyataan yang didukung oleh lambang),
komunikan (penerima pesan), media (sarana atau saluran yang mendukung pesan
bila komunikan jauh atau banyak), efek (dampak sebagai pengaruh dari pesan).
C.
Komunikasi
Massa dan New Media.
Bentuk komunikasi ada 2 yaitu komunikasi massa mainstream dan new
media. Komunikasi massa mainstream merupakan proses komunikasi yang menggunakan
media massa yang memiliki karakteristik yaitu komunikatornya melembaga, pesannya
bersifat umum dan universal, saluran atau medianya berupa cetak atau elektronik,
komunikannya tersebar dimana-mana dan heterogen, umpan baliknya tertunda, mempunyai
efek secara individu dan sosial. Sedangkan, New media merupakan bentuk
komunikasi pengembangan dari komunikasi massa yang mainstream yang memiliki
karakteristik yaitu dengan adanya internet semua menjadi berubah dalam
pemberitaan publik dan sosial, berita cepat menyebar, pintu dunia semakin lebar
membuka, setiap orang menjadi “wartawan” (citizen journalism), rawan
berita palsu atau hoax.
D.
Fungsi Media Massa
1.
To
inform (memberikan informasi) : memberikan informasi secara objektif yang
berbasis data dan fakta. Media massa memberi informasi tentang peristiwa secara
apa adanya.
2.
To
educate (mendidik) : media massa adaah suatu sarana, suatu media yang bisa
menyebarkan nilai-nilai yang baik kepada khalayak. Media massa memiliki
tanggungjawab untuk menyebarkan nilai kebaikan kepada masyarakat luas. Media
massa seharusnya menyajikan program yang memberikan Pendidikan.
3.
To
transform (transformasi) : media massa bisa juga disebut agen perubahan
karena media adalah salah satu Lembaga yang bisa mendorong perubahan yang
diharapkan menuju perubahan yang baik. Banyak sekali orang yang berubah karena
dipicu oleh media.
4.
To
entertain (menghibur) : ini adalah fungsi media yang sekedar mengisi
ruang-ruang untuk menghibur masyarakat. Tetapi pada faktanya, fungsi ini justru
yang paling dominan dalam media massa terutama televisi. Bahkan, karena
seringnya menunjukkan untuk menghibur di televisi maka dunia televisi ini diset
dengan dunia entertainment atau dunia hiburan.
E.
Relasi Ruang Publik dan Pers Menurut Habernas
Istilah jurnalistik mengacu pada kata “de jour” dalam Bahasa
prancis yang berarti kegiatan pencatatan sehari-hari. Kegiatan ini berhubungan
dengan kepentingan public. Kegiatan jurnalistik kemudian dkenal dengan nama
pers. Membludaknya berita dan informasi menandai zaman baru di era teknologi
yang ditandai dengan adanya pos, telegram, radio, televisi maupun internet. Relasi
antara ruang publik dan pers itu menjadi perhatian Habermas. Habermas
menganalisis bagaimana perkembangan pers terjadi seiring dengan perkembangan
publik.
Istilah publik pada awalnya memiliki pengertian keningratan yang
memperlihatkan hak-hak keistimewaan yang dimiliki oleh bangsawan. Dalam
pandangan hukum romawi, dengan tegas mendefinisikan publik sebagai kepentingan
umum. Habermas (1989) membagi ruang publik ke dalam dua jenis yaitu ruang
publik politik, dan ruang publik sastra. Ruang publik politik bukan hanya
memperlihatkan keterbukaan ruang yang dapat diakses, tetapi memperlihatkan pula
bagaimana struktur sosial masyarakat yang berubah. Sementara itu dalam ruang
publik sastra, kesadaran literasi masyarakat mulai meningkat sejalan dengan
kemunculan penerbitan-penerbitan, diskusi masyarakat mengenai seni, estetika,
maupun sastra tersebar di penjuru Eropa.
Kedua jenis ruang publik ini memiliki makna dan arti yang sama
yaitu kedua ruang dapat diakses publik, adanya kesetaraan, status sosial yang
dikesampingkan, tumbuhnya aktivitas kritis publik dan berkembangnya ruang
publik kearah komunikasi. Dari sini muncullah kegiata jurnalistik dan pers di
Eropa. Kemunculan pers ditandai dengan 2 hal yaitu kebutuhan informasi yang
berkaitan dengan kepentingan perdagangan komersial dan kegiatan masyarakat
dalam ruang publik sastra yang telah banyak menghasilkan terbitan. Jurnalisme
publik memiliki beragam bentuk, diantaranya bentuk pertama yaitu jurnalisme
publik yang berupaya mendorong keterlibatan atau partisipasi masyarakat yang
berkaitan dengan politik. Bentuk kedua dimaknai sebagai bentuk jurnalisme
publik yang menjadikan masyarakat sebagai mitra aktif baik itu dalam proses
pembuatan berita maupun dalam rangka membangun kemampuan masyarakat untuk
bekerjasama dalam menyelesaikan masalah atau dalam mencapai target yang
masyarakat inginkan.
BAB IV
TEORI KOMUNIKASI KONTEMPORER
A.
Teori Komunikasi.
Teori adalah sekumpulan konstruks yang saling berkaitan dalam
menjelaskan sebuah fenomena. Sebenarnya teori itu bukan definisi, melainkan
didalam teori tersebut terdapat definisi. Menurut Littlejohn, fungsi teori ada 9 (sembilan) yaitu :
1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan : mengorganisasi dan menyimpulkan
pengetahuan tentang suatu hal.
2. Memfokuskan : hal-hal yang diamati harus jelas fokusnya.
3. Menjelaskan : teori harus bisa membuat penjelasan dari apa yang
diamatinya.
4. Mengamati : teori memberi petunjuk bagaimana cara mengamati suatu
objek yang sedang diamati.
5. Membuat prediksi : harus dibuat suatu perkiraan tentang hal yang
akan terjadi.
6. Heuristic : teori yang diciptakan dapat merangsang peneliti lainnya
untuk meneliti lebih dalam.
7. Komunikasi : teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap
kritikan-kritikan.
8. Kontrol atau mengawasi : teori berfungsi sebagai sarana pengendali
atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.
9. Generatif : teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial
dan kultural, serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.
Komunikasi adalah pengiriman pesan dari
komunikator atau sumber pesan kepada penerima yang akan menimbulkan efek.
Sebenarnya, komunikasi sulit didefinisikan karena setiap orang dapat membuat pengertian
tersendiri tentang komunikasi sesuai dengan apa yang dipahaminya.
Komunikasi bersifat multi-disiplin yang
dipengaruhi oleh sosiologi, antropologi, psikologi, sastra, politik, matematika
dan ilmu lainnya. Sehingga, ketika belajar komunikasi otomatis juga harus
mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya juga.
B. Teori
Komunikasi Massa
Peta teori komunikasi massa :
1. Sistem
sosial budaya (kajian makro) : menghubungkan isi dan istitusi media dengan
siste sosial budaya.
2. Media :
media dilihat sebagai isi dan institusi.
3. Khalayak
(kajian mikro) : menghubungkan antara isi edia dengan khalayak.
Jika melihat fenomena komunikasi tapi hanya
dari media saja tanpa dikaitkan dengan khalayak atau sistem sosial budaya, maka
ada 2 teori besar yaitu :
1. Teori
Semiotika : bagaimana caranya mengamati isi media tentang adanya simbol dan
pemaknaan.
2. Teori The
Medium Is The Message : karakteristik sebuah media itu akan menonjolkan
bagaimana pesan-pesan itu dibuat.
Kajian mikro adalah kajian yang
memperlihatkan isi media dengan khalayak. Ada 8 teori dalam kajian mikro ini
yaitu Teori Jaringan Komunikasi, Teori Difusi Komunikasi, Teori Peluru, Teori Two
Step Flow Communication, Teori Agenda Setting, Teori Dependensi, Teori
Multi Step of Communication. Dalam kajian makro ada 4 teori yaitu Teori
Kultivasi, Teori Spiral of Silence, Teori Fungsional Media, Marxist
Teori.
C.
Teori Komunikasi Kontemporer.
Dalam teori komunikasi kontemporer ini akan
membahas lebih dalam tentang Teori Cultural Studies.
1. Sejarah
Teori Cultural Studies.
Pertama kali muncul di tengah semangat Neo-marxisme pada tahun 1960 an
yang berupaya untuk meredefinisikan marxisme sebagai perlawanan terhadap
dominasi dan hegemoni budaya tertentu. Cultural Studies berakar dari gagasan
Karl Max yang mempunyai pandangan bahwa kapitalisme telah menciptakan kelompok
elite adiluhung untuk mengeksploitasi kelompok yang tidak berkuasa atau lemah.
Hal ini menyebabkan kelompok yang lemah merasa tidak memiliki control
atas masa depan mereka. Hal ini juga yang mendasari Richard Hoggart dan Raymond
Williams mendirikan institusi bernama The Birmingham Centre For Contemporary
Cultural Studies atau yang disebut dengan CCCS yang didirikan pada tahun
1964. Para pendiri cultural studies sama-sama berlatar belakang dari kelas
pekerja. Mereka mempunyai cara pandang yang sama dan memandang kritis tentang
asal muasal mereka yang berkiprah di tengah yang pada umumnya didominasi oleh
budaya elite.
Dari sini mulai muncul semangat perlawanan terhadap budaya elite yang
dikontraskan dengan budaya jelata. Para pendiri cultural studies
berlatar belakang Pendidikan sastra yang membuat kajian tentang bentuk dan
ekspresi budaya yang mencakup budaya tinggi dan budaya rendah dan juga
mengemukakan sejumlah teori tentang kaitannya antara keduanya sebagai formasi
sosial historis.
Jurnal pertama mereka terbit ada tahun 1972 yang berjudul “Working
Papers In Cultural Studies” yang diterbitkan dengan tujuan khusus yaitu
untuk mendefinisikan dan mengisi sebuah ruang serta meletakkan cultural
studies pada peta intelektual.
2. Tokoh.
a. Richard
Hoggart merupakan seorang dosen sastra inggris di Universitas Birmingham.
Karyanya yang paling terkenal adalah “The Uses of Literacy” yang terbit pada
tahun 1957. Dalam karyanya tersebut Hoggart menyatakan bahwa “pembacaan kritis
terhadap seni dapat menampakkan kualitas perasaan kehidupan suatu masyarakat,
hanya seni yang dapat menciptakan kembali kehidupan dalam segala keragaman dan
kompleksitasnya yang kaya dan hanya seni juga yang sanggup membawa kita keluar
dari pengalaman keseharian yang terikat waktu.”
Sangat disayangkan, menurut Hoggart bahwa di kelas pekerja itu terjepit
oleh elit media sehingga seni yang seharusnya bisa menjadi sarana evakuasi
subjek dan menyelamatkan dari hidup yang terikat waktu, akhirnya malah menjadi
alat penindasan baru sehingga tidak terbebaskan.
Menurut Hoggart, sebelum perang dunia ke-2 kehidupan para pekerja
Inggris sangat autentik. Kehidupan mereka dan budaya Inggris menjadi
keseluruhan yang saling berhubungan. Klub pekerja pria bergabung secara
langsung secara rapi dengan struktur keluarga, pola Bahasa dan aktivitas
menciptakan kehidupan yang kaya serta saling berhubungan. Namun, sejak
diimpornya media hiburan dari Amerika seperti film, program tv, music, komik,
majalah dan novel kehidupan mereka menjadi terbelah dengan budaya sosial
pekerja Inggris sebelumnya. Budaya dari Amerika ini dapat disebut budaya massa
yang bersifat dangkal dan penuh pura-pura.
b. Raymond
Williams merupakan dosen ilmu politik di Universitas Oxford. Karyanya yang
paling terkenal adalah “Culture and Society” pada tahun 1958, lalu
kemudian “The Long Revolution” yang terbit pada tahun 1961. Dalam
karyanya tersebut, Williams menyatakan bahwa kebudayaan sebagai ekspresi
spesifik dari komunitas organik yang koheren dan melawan determinasi dalam
segala bentuk.
Williams mengatakan bahwa budaya adalah sebuah entitas yang seluruhnya
eksklusif, suatu keseluruhan, cara hidup, material, intelektual dan spiritual.
Dengan kata lain, nilai sosial dapat digunakan untuk mendukung dan menopang
struktur ideologis yang ada sekaligus sebagai ekspresi yang merendahkan orang
awam.
c. E.P.Thompson
merupakan wakil presiden CND, karyanya yang paling terkenal adalah “The
Making of The English Working” yang terbit pada tahun 1978. Menurutnya,
kelas pekerja Inggris itu muncul dalam periodesasi secara tertentu. Dengan
memahami ini, kita dapat menemukan kembali perantara, perhatian dan pengalaman
masa populasi Inggris yang telah diabaikan oleh tradisi sejarah konvensional
yang dominan.
Menurutnya, untuk memahami kelas sosial sangat penting melihatnya
sebagai formasi sosial dan kultural yang muncul dari proses yang hanya dapat
dipelajari selagi mereka membentuk dirinya pada suatu periode sejarah tertentu.
d. Stuart Hall
merupakan sosiolog di Universitas Birmingham. Hall menaruh perhatiannya kepada
terpinggirkannya budaya black Atlantic atau Negro di Inggris. Upaya
untuk melawan peminggiran budaya ini dapat dilakukan dengan politik identitas
atau politik representasi. Adapun tahap untuk mencapai politik identitas itu
ada 3 yaitu :
-
Mereduksi konflik internal : gunanya untuk
menciptakan sebuah integrasi.
-
Menciptakan konsensus : ingin seperti apa
ketika kelompoknya dilihat oleh orang lain.
-
Mencapi ruang publik : dengan cara
demonstrasi atau unjuk rasa untuk bisa mencapai ruang publik.
Culture studies bisa juga disebut anti-disiplin. Karena secara bebas meminjam beragam
disiplin ilmu di ranah sosial humaniora baik berupa teorinya culture studies
bisa dikatakan tidak memiliki batasan yang jelas. Seluruh teori dari ilmu
filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi dan lainnya itu tercakup dalam culture
studies dikarenakan culture studies tidak ingin membatasi kita dalam
memandang dan melihat suatu fenomena.
Sardan dan Van loon merinci karakteristik culture
studies yaitu Culture studies bertujuan untuk mengkaji pokok
persoalan dari sudut praktik budaya dan hubungannya dengan kekuasaan, Culture
studies tidak hanya studi tentang budaya melainkan memahami budaya dalam
segala bentuk kompleksnya dan menganalisis konteks sosial dan politik, budaya
dalam culture studies menampilkan dua fungsi yang merupakan objek studi
maupun lokasi Tindakan dan kritisme politik.
D. TEORI
STIMULUS ORGANISM RESPONSE (SOR)
Teori SOR ini dikembangkan oleh Houland
pada tahun 1953. Teori ini berangkat karena adanya pengaruh dari ilmu psikologi
dan ilmu komunikasi. Asumsi dasar teori SOR ini adalah penyebab terjadinya
perilaku dalam masyarakat bergantung pada kualitas rangsangan yang
berkomunikasi pada organisme tersebut. Makanya, dalam masyarakat sebuah
perubahan tidak dapat dilakukan tanpa adanya bantuan dari orang luar.
Teori ini sempat cocok dipakai dalam
menerapkan strategi pada masyarakat dalam penyuluhan atau penyadaran suatu isu.
Menurut teori SOR, perubahan sikap serupa dengan proses belajar individu yakni
pesan sebagai stimulus (pesan atau rangsangan) yang diberikan oleh komunikator
kepada komunikan sebagai organisme dapat diterima atau ditolak. Jika komunikan
menolak, maka stimulus (pesan atau rangsangan) tersebut kurang efektif dan
sebaliknya.
Jika
komunikan mengerti maksud stimulus (pesan atau rangsangan) tersebut, menandakan
bahwa proses belajarnya terus berlanjut sehingga setelah komunikan mengerti
maksudnya, komunikan akan mengolah stimulus (pesan atau rangsangan) yang
diberikan oleh komunikator. Sehingga melahirkan proses perubahan perilaku.
Teori SOR ini banyak digunakan dalam berbagai bidang, karena teori ini
bertujuan untuk merubah sikap individu atau kelompok.
BAB V
PERILAKU KOLEKTIF DAN PENGELOMPOKAN MANUSIA
A. Perilaku
Kolektif dan Gerakan Sosial.
Perilaku kolektif (collective behaviour) menurut Bruce J Cohen
(1992) adalah jenis perilaku yang relatif tidak tersusun, bersifat spontan,
emosinal dan tak terduga. Perilaku ini terjadi apabila cara-cara mengerjakan
sesuatu yang telah dikukuhkan secara tradisional tidak lagi memadahi. Individu
yang terlibat dalam perilaku kolektif tanggap terhadap rangsangan tertentu yang
mungkin datang dari orang lain atau peristiwa khusus.
Perilaku kolektif pada mulanya dianggap sebagai perilaku menyimpang
sehingga perilakunya dianggap irasional. Menurut Horton dan Hunt perilaku
kolektif adalah perilaku yang dilakukan oleh sejumlah orang secara bersama-sama
dan tidak bersifat rutin dan merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.
Perilaku kolektif cenderung sangat spontan yang dihasilkan dari pengalaman
mereka yang terlibat dan dibagikan oleh anggota kelompok yang menimbulkan rasa
minat dan identitas yang sama. Ciri-ciri perilaku kolektif :
1. Peilaku yang
dilakukan bersama-sama oleh sejumlah orang.
2. Perilaku
yang bersifat spontanitas dan tidak terstruktur.
3. Perilaku
yang tidak bersifat rutin.
4. Perilaku
yang merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.
5. Dipacu oleh
beberapa rancangan masalah.
Macam-macam perilaku kolektif :
1. Kerumunan (crowd)
: sekumpulan orang yang ada pada suatu tempat dan suatu waktu secara bersama
yang sifatnya sementara. Kerumunan mempunyai beberapa bentuk yang ada dalam
masyarakat yaitu :
a. Casual crowd : contohnya sekelompok orang yang berada diujung jalan dan tidak
memiliki maksud apa-apa.
b. Conventional
crowd : contohnya audience yang mendengarkan ceramah.
c. Expressive
crowd : contohnya sekumpulan orang yang sedang
memonton konser musik yang ikut menari dan menyanyi.
d. Acting crowd : contohnya sekelompok massa yang sedang melakukan tindakan kekerasan.
Bentuk kerumunan yang sering dijumpai dalam
masyarakat adalah :
a. Kerumunan
yang beraktikulasi dengan struktur sosial. Terdapat formal audience dan expensive
group. Formal audience adalah khalayak pendengar atau penonton yang
merupakan kerumunan yang mempunyai pusat perhatan dan persamaan tujuan. Expensive
group adalah kerumunan yang perhatiannya tidak begitu pentingtetapi
mempunyai persamaan tujuan yang terpusat dalam aktivitas kerumunan.
b. Kerumunan
bersifat sementara. Terdapat inconvenient agreegations, panic crowds dan
spectator crowds. Inconvenient agreegations adalah kumpulan yang kurang
menyenangkan. Dalam
kerumunan tersebut kehadiran orang lain merupakan penghalang terhadap
tercapainya maksud atau tujuan seseorang. Panic crowds adalah kerumunan
orang yang sedang dalam keadaan panik. Spectator crowds adalah kerumunan
penonton yang ingin melihat kejadian tertentu. Kejadian yang terjadi umumnya
tidak terkendali.
c. Kerumunan
yang berlawanan dengan norma hukum. (lawless crowds). Terdapat acting
mobs dan immoral crowds. Acting crowds adalah kerumunan yang
bertindak emosional dan sifatnya tidak terkendali. Immoral crowds adalah
kerumunan yang tindakannya berlawanan dengan norma masyarakat.
d. Kerumunan
pasif adalah individu hanya berkumpul secara fisik, bersikap tenang dan tidak
memiliki tujuan tertentu.
e. Unjuk rasa
adalah kerumunan yang bersifat lebih teratur daripada himpunan penonton.
f.
Kerumunan berdasarkan
tempat tinggal. Kerumunan ini berdasarkan orang yang mempunyai tempat tinggal
yang sama, tetapi tidak saling mengenal.
g. Kerumunan
fungsional adalah sekumpulan orang yang mempunyai tugas atau fungsi tertentu.
2. MOB atau
massa adalah kerumunan yang emosional yang cenderung melakukan kekerasan atau
penyimpangan dan tindakan destruktif.
Umunya melakukan Tindakan melawan tatanan sosial yang ada secara
langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan, ketidakadilan,
frustasi adanya perasaan dicederai oleh institusi yang telah mapan atau lebih
tinggi. Bila MOB dalam sekala besar maka akan menjadi kerusuhan massa.
3. Panik adalah
bentuk dari perilaku kolektif yang tindakannya merupakan reaksi terhadap
ancaman yang muncul didalam kelompok tersebut. Biasanya berhubungan dengan
kejadian-kejadian bencana. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini adalah
histeria massa. Pada histeria mass aini terjadi kecemasan yang berlebihan oleh
masyarakat.
4. Opini pulik
adalah sekelompok orang yang memiliki pendapat yang berbeda mengenai suatu hal
dalam masyarakat. Dalam opini publik ini, antara kelompok masyarakat terjadi
perbedaan pandangan atau perspektif.
5. Propaganda
adalah informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan atau
membentuk opini publik. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi
atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya.
Faktor penentu perilaku kolektif yaitu :
1. Situasi
sosial. Situasi yang menyangkut ada atau tidaknya pengaturan dalam instansi
tertentu.
2. Ketegangan
struktural. Adanya perbedaan atau kesenjangan di suatu wilayanh akan
menimbulkan ketegangan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.
3. Menyebarnya
suatu kepercayaan umum. Berkembangnya isu-isu yang dapat menyinggung kelompok
lain.
4. Faktor yang
mendahului. Yakni faktor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan yang
dikandung massa.
5. Mobilisasi
perilaku oleh pemimpin untuk bertindak. Perilaku kolektif akan terwujud apabila
khalayak ramai dimobilisasi oleh pimpinannya.
Gerakan sosial merupakan salah satu bentuk
perilaku kolektif pada umumnya. Gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan
jangka Panjang untuk mengubah atau mempertahankan keadaan tertentu atau
institusi yang ada dalam masyarakat seperti Gerakan mahasiswa Indonesia pada
tahun 1965-1966 yang dilakukan hamper setiap hari yang bertujuan untuk mengubah
kebijakan ekonomi pemerintahan. Gerakan sosial terbagi menjadi empat tipe
berdasarkan tipe perubahan dan besarnya perubahan yang dikehendaki :
1. Alternative
movement. Merupakan Gerakan yang bertujuan mengubah
Sebagian perilaku perorangan seperti kampanye agar tidak merokok dan lainnya.
2. Redemtive
movement. Merupakan gerakan untuk merubah pada
perilaku perorangan khususnya bidnag agama seperti Gerakan untuk hidup sesuai
ajaran agama.
3. Revormative
movement. Merupakan gerakan untuk merubah
masyarakat dalam bidang-bidang tertentu seperti gerakan kaum homo yang meminta
pengakuan terhadap gaya hidup mereka.
4. Transformative. Merupakan gerakan untuk mengubah masyarakat secara keseluruhan seperti
gerakan kaum komunis untuk menciptakan kaum atau masyarakat komunis.
B. Teori
Perilaku Sosial Kolektif.
Teori Perilaku Massa (Crowd Behaviour Theory). Dalam teori ini
terdapat 3 teori yang menjelaskan bagaimana perilaku manusia yang berada dalam
sebuah kerumunan atau massa yaitu :
1. Teori
Penularan (Crowd Behaviour Theory) : teori ini menjelaskan ketika
seseorang terlibat dalam sebuah kerumunan, maka mereka tidak bisa berpikir
secara rasional. Seorang tersebut akan mengikuti situasi dan tindakan yang ada
dalam kerumunan tersebut. Mereka akan melakukan Tindakan irasional tanpa mereka
sadari.
2. Teori
Konvergensi : menjelaskan bahwa sesungguhnya perilaku dari kerumunan disebabkan
oleh kesepakatan. Teori ini menjelaskan bahwa orang yang tergabung dalam sebuah
kerumunan itu memiliki kesamaan pemikiran sebelum seseorang tersebut gabung
dalam kerumunan.
3. Teori
Kemunculan Norma (The Emergence of Norma) : teori ini menjelaskan bahwa
meskipun seseorang datang dengan pemahaman yang sama dalam sebuah kerumunan,
kemudian akan memunculkan Tindakan baru yang melahirkan sebuah norma baru dan
akan diikuti oleh semua orang dalam kerumunan tersebut.
C. Teori
Perilaku Kolektif Harbert Bluemer.
Teori perilaku kolektif muncul pada paruh pertama abad 20 dan menjadi
teori awal berkembangnya teori gerakan sosial harbert Blumer memiliki paradigma
interaksisme simbolik dan Neil Smelser memiliki perspektif fungsionalisme
struktural. Keduanya memiliki pandangan kritis satu sama lain. Pada dasarnya,
keduanya tidak disatukan oleh pandangan mereka terhadap fenomena Gerakan sosial
atau terhadap fenomena perilaku kolektif.
Blumer bekerja di University of
Chicago pada tahun 1930-1940 dan bekerja sama dengan gurunya yang bernama
Robert E. Park yang mengembangkan teori perilaku kolektif dan memperkuat teori
perilaku kolektif dalam kejian ilmu sosial di University of Chicago.
Blumer dan Park meyakini bahwa kehidupan sosial itu diibaratkan dengan
perilaku kolektif karena kehidupan sosial pada hakikatnya adalah interaksi
antar satu orang dengan orang lain dalam kelompok, keluarga maupun komunitas.
Blumer dan Park memberikan perhatian pada interaksi ini, karena dengan
interaksi ini suatu kelompok membangun dan melestarikan norma sosial dan
mengatur orang-orang yang ada dalam kelompok sosial tersebut. Bagi Blumer, orang
yang menentang norma-norma sosial yang mapan ini menjadi pembuat norma-norma
sosial baru. Konsep perilaku kolektif
yang dikenalkan oleh Blumer adalah :
1. Masalah
sosial : kondisi sosial tidak serta merta menjadi masalah sosial, kecuali
seorang itu mendefinisikannya sebagai masalah sosial. Masalah sosial bagi
blumer sangat bergantung pada interpretasi seseorang atas masalah yang
dihadapi.
2. Keluhan atas
perilaku tidak adil : Munculnya situasi atau keluhan biasanya diebabkan oleh
dua hal yaitu adanya perampasan dan peminggiran.
3. Agitasi dan
agitator : agitasi adalahproses mempengaruhi persepsi orang tentang kehidupan
sosial mereka. Sedangkan, agitator adalah orang yang mempengaruhi. Keduanya
menjadi relevan dalam pandangan blumer ketika masalah sosial itu tergantung
pada interpretasi atau definisi seseorang.
4. Kekacauan
sosial : terjadi ketika individu dalam masyarakat kehilangan akal dan
kepercayaan yang mereka miliki.
5. Teori
penularan : sebuah situasi ketika seorang yang berada dalam kelompok sosial
tertentu itu terperangkap dalam emosi kelompok yang sedang bermasalah.
6. Reaksi
melingkar : respon seseorang terhadap orang lain dengan cara merefleksikan
kembali perasaan yang ditunjukkan kepadanya.
7. Kerumunan :
ketika individu dalam kelompok atau masyarakat kehilangan kemampuan berfikir
dan mengikuti kemauannya.
D. Penjelasan
Kelompok Sosial.
Kelompok sosial menurut Joseph S. Roucek yaitu sebuah kelompok yang
meliputi dua orang atau lebih. Diantara mereka terdapat pola interaksi yang
bisa dipahami oleh pihak lain atau anggotanya sendiri secara keseluruhan.
Menurut Soerjono Soekanto kelompok sosial adalah suatu ketentuan atau himpunan
manusia yang saling berkaitan diantara mereka dengan adanya timbal balik dan
akan saling mempengaruhi. Menurut Robert K. Merton kelompok sosial adalah
sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah
mapan. Kelompok sosial adalah sekumpulan
individu yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Tidak semua individu
layak disebut kelompok sosial. Menurut Robert K. Merton terdapat 3 kriteria
suatu kelompok yaitu kelompok ditandai oleh sering terjadinya interaksi, pihak
yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok, pihak yang
berinteraksi didefinisikan oleh orang lain sebagai anggota kelompok. Ciri-ciri
kelompok sosial :
1. Partisipasi
aktif. Kesadaran dari setiap individu dalam kelompok sosial bahwa dirinya
adalah bagian dari kelompok sosial sehingga ia akan aktif berpartisipasi dalam
kegiatan kelompok.
2. Kesamaan
yang dimiliki anggota. Setiap individu memiliki nasib, tujuan hidup dan
cita-cita yang sama yang akan mempererat individu dalam kelompok sosial.
3. Adanya
struktur organisasi. Dalam kelompok sosial terdapat struktur tersendiri. Hal
ini memungkinkan setiap anggota mendapat peran, fungsi dan kedudukan yang
jelas.
4. Adanya
kegiatan yang dilakukan bersama. Adanya aktifitas bersama yang dilakukan semua
anggota akan menciptakan interaksi dan pola perilaku aktif dari semua individu
yang tergabung.
5. Telah
terbentuk selama jangka waktu tertentu. Kelompok belum bisa disebut kelompok
sosial jika baru saja terbentuk dalam beberapa hari atau minggu.
6. Ikatan yang
erat antar anggota kelompok. Apabila individu mengalami kejadian yang
mengakibatkan dampak tertentu, perilaku individu lain dalam kelompok juga akan
terpengaruh.
7. Memiliki
peraturan atau norma. Kelompok sosial memiliki tujuan yang sama, dengan
demikian akan diciptakan norma atau peraturan. Terbentuknya norma atau
peraturan tentunya memiliki tujuan yang tegas dan harus ditaati demi
tercapainya tujuan bersama.
Jenis kelompok sosial :
1. Kelompok
sosial terorganisir : Kelompok sosial terorganisir terbagi menjadi beberapa
kelompok :
a. Kelompok
dasar : kelompok yang berukuran relative kecil yang dibentuk karena adanya
tujuan untuk melindungi anggota dari tekanan negatif kelompok besar yang telah
mapan.
b. Kelompok
besar dan kecil : ditentukan dari jumlah anggota dan beban tugasnya.
c. Kelompok
primer dan sekunder : kelompok primer memiliki ciri hubungan erat antar
anggotanya, setiap anggota saling berdekatan, memiliki ikatan emosional, dan
memiliki solidaritas yang tinggi. Kelompok sekunder memiliki ciri hubungan yang
tidak erat dan biasanya didasari oleh keterikatan karena kerjaan atau
profesionalitas.
d. In grup dan out grup : ketika seseorang menyebut “kami” seseorang
tersebut adalah bagian kecil dari kelompok itu, dan ketika seseorang menyebut
“mereka” seseorang bukan bagian dari kelompok tersebut.
e. Paguyuban
dan patembayan : kelompok paguyuban memiliki ikatan batin yang murni dan
kedekatan sosial yang tinggi. Kelompok patembayan memiliki ikatan yang mekanis
didasarkan atas misi bersama.
f.
Kelompok formal dan informal : kelompok
formal adalah kelompok yang memiliki aturan-aturan yang sengaja diciptakan
untuk mengatur hubungan antar anggotanya. Kelompok informal adalah kelompok
yang tidak memiliki aturan atau struktur organisasi yang secara tertulis atau
legal.
g. Kelompok
keanggotaan dan kelompok acuan : kelompok keanggotaan adalah kelompok yang
secara resmi menunjukkan seseorang sebagai anggotanya. Kelompok acuan adalah
kelompok yang dijadikan acuan oleh mereka yang bukan anggotanya.
2. Kelompok
sosial tidak terorganisir : Dalam kelompok sosial tidak terorganisir terdapat 3
jenis yaitu :
a. Kerumunan
adalah sekelompok orang yang berada di suatu tempat tetapi tidak memiliki pola
hubungan yang bertahan lama.
b. Publik
merupakan kumpulan pribadi yang interaksinya berlangsung melalui perantara dan
tidak langgeng.
c. Massa
merupakan kerumunan sosial dalam konteks urban dan modernitas. Kerumunan
dibentuk oleh visi bersama.
E. Ilmu Sosial.
1. Kelompok
sosial adalah kumpulan manusia yang saling berinteraksi dan memiliki kesadaran
bersama akan keanggotaannya dalam suatu kelompok. Kelompok sosial terbentuk
karena tumbuhnya perasaan-perasaan bersama akibat interaksi yang sering terjadi
diantara mereka.
Kelompok sosial memiliki Ciri-ciri yaitu memiliki motif yang sama antara
individu satu dengan individu lainnya sehingga kerjasama dan interaksi untuk
mencapai tujuan yang sama mudah terjadi, anggota kelompok memiliki kesadaran
bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang bersangkutan, terdapat hubungan
timbal balik, mempunyai struktur sosial sehingga kelangsungan hidup tergantung
kepada anggota dalam menjalankan peran, memiliki norma dan aturan yang mengatur
anggota, merupakan kesatuan yang nyata sehingga dapat dibedakan dengan kelompok
lainnya.
Terbentuknya kelompok sosial dipicu oleh naluri manusia yang tidak bisa
sendiri dan ingin hidup bersama serta menyatu dengan manusia lainnya. Terdapat
2 faktor utama yang membuat seseorang bergabung dalam suatu kelompok adalah
kedekatan dan kesamaan. Pembentukan kelompok akan diawali dengan adanya kontak
sosial dan komunikasi sosial yang akan menghasilkan proses sosial dalam
interaksi sosial.
Syarat pembentukan kelompok sosial yaitu setiap
anggota memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang
bersangkutan, adanya kesamaan faktor yang dimiliki anggota kelompok tersebut
sehingga hubungan bertambah erat, kelompok sosial memiliki struktur dan kaidah serta
pola perilaku tertentu, kelompok sosial memiliki system dan berproses untuk
membedakan dengan kerumunan.
2. Kelompok
semu atau tidak teratur merupakan klelompok yang terbentuk ditengah pergaulan
manusia. Kelompok ini terbentuk secara sementara dan tidak mungkin memiliki
ikatan erat antar anggotanya. Kelompok semu tidak mempunyai aturan yang
bersifat mengekang. Ciri dari kelompok semu yaitu terbentuk secara tidak
sengaja dan tanpa perencanaan, tidak terorganisir, interaksi antar anggota
todak berlangsung terus menerus, yidak ada kesadaran berkumpul, kehadiran tidak
konstan.
3. Kelompok
nyata atau teratur adalah kelompok yang terbentuk dengan satu ciri khusus yang
sama, yaitu kehadiran selalu konstan. Ciri dari kelompok nyata yaitu terbentuk secara sengaja dengan perencanaan
sebelumnya, terorganisir, interaksi antar anggota berlangsung terus menerus, adanya
kesadaran berkelompok, kehadirannya konstan.
4. Kelompok
sosial primer (primary group) merupakan kelompok yang jumlah anggotanya
sedikit yang mempunyai hubungan dekat dan langgeng. Menurut George Homans
kelompok sosial adalah sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang
saling berinteraksi sehingga setiap orang akan bisa berkomunikasi secara
langsung. Menurut Charles Horton Cooley kelompok sosial adalah pengelompokan
anggota-anggota dalam masyarakat yang terorganisir secara adat berdasarkan
hubungan adat maupun berdasarkan ikatan daerah. Ciri-ciri dari kelompok sosial
primer yaitu terdapat interaksi sosial yang lebih erat antar anggotanya, bersifat
irrasional dan tidak didasari oleh pamrih, hubungan sosial antar anggota
kelompok lebih intensif dan saling mengenal kearah yang lebih dekat, memiliki
peranan yang sangat besar dalam kehidupan masing-masing individu, ruang lingkup
kelompok primer ini adalah keluarga, tetangga, dan teman sebaya.
5. Kelompok
sosial sekunder (secondary group) adalah kelompok-kelompok besar yang
terdiri dari banyak orang. Hubungannya tidak harus mengenal secara pribadi.
Biasanya kurang akrab dan mempunyai sifat tidak langgeng karena hanya didasari
pada keuntungan bersama. Kelompok sosial sekunder bertujuan mencapai suatu
tujuan tertentu sehingga kelompok tersebut lebih mempunyai peran sebagai sarana
bukan hanya tujuan. Ciri-ciri kelompok sosial sekunder yaitu anggotanya memiliki
jumlah yang banyak, bersifat rasional, bersifat formal, timbul perasaan kurang
tentram antar anggota, adanya spesialisasi yang sangat ekstrim.
6. Nilai dan
norma. Sama halnya dengan kelompok sosial secara umum, perilaku dari kelompok
sangat dipengaruhi oleh nilai, norma dan peraturan dalam kelompok. Kegiatan
apapun yang terdapat dalam kelompok tidak dilakukan secaa bebas, melainkan
berdasarkan nilai dan norma. Nilai dan norma muncul dari proses interaksi antar
anggota kelompok.
BAB VI
PERUBAHAN SOSIAL (SOCIAL CHANGE)
A. Perubahan
Sosial
Perubahan
sosial pada dasarnya adalah perubahan yang terjadi dalam dan pola hubungan
dalam suatu masyarakat. Sedangkan, pola hubungan terbentuk melalui interaksi
atau komunikasi. jika terjadi perubahan dalam masyarakat, berarti terjadi
perubahan pula dalam komunikasi. Perubahan sosial dapat diartikan dengan proses
perubahan dalam berbagai aspek sosial dan pada kehidupan masyarakat yang
terjadi dalam kurun waktu tertentu. Perubahan aspek dalam kehidupan masyarakat
yaitu perubahan dalam nilai dan norma sosial, perubahan pada proses sosial,
pola perilaku sosial, gaya hidup dan kelembagaan sosial. Perubahan sosial
secara umum dapat diartikan dengan suatu proses pergeseran atau berubahnya
tatanan atau struktur didalam masyarakat yang meliputi pola pikir, sikap serta
kehidupan sosialnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Menurut Kingsley David, perubahan sosial
adalah adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
Sedangkan menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan pada
lembaga-lembaga kemasyarakatan di suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem
sosial, termasuk sikap, pola perilaku diantara pola di masyarakat.
B. Teori-Teori
Perubahan Sosial.
1. Teori
evolusi : Teori evolusi memperlihatkan bahwa semua masyarakat dalam semua sisi
kehidupan sosial berkembang melalui tahapan-tahapan yang sama dari sederhana
menuju ke tahapan yang kompleks (modern). Dalam teori evolusi ni dapat dilihat
terjadinya transformasi masyarakat mulai dari masyarakat tradisional hingga
masyarakat modern. Menurut Alex Inkeles seorang ahli sosiologi asal Amerika,
teori evolusi digolongkan atau dikategorikan sebagai berikut :
a. Unlinear
theories of evolution : teori ini menganggap masyarakat
berkembang dari masyarakat yang sebelumnya sederhana, kompleks hingga sampai
pada tahap yang sempurna. Teori ini berpendapat bahwa tahap-tahap perkembangan
menyerupai lingkaran dimana tahapan tersebut dapat berulang-ulang.
b. Universal
theories of evolution : teori ini mengemukakan bahwa perubahan
merupakan hal yang sudah berada ada garisnya (linear). Sehingga perubahan akan
maju ke depan dan tidak akan berulang-ulang.
c. Multilinear
theories of evolution : teori ini lebih menekankan pada
penelitian tahap-tahap perkembangan evolusi masyarakat. Misalnya, dari
masyarakat yang awalnya berburu menjadi masyarakat yang bertani, dan masyarakat
yang bertani menjadi masyarakat yang berindustri.
2. Teori
konflik : Teori konflik merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan
sosial. Konflik terjadi karena adanya pertentangan antara kelas sosial, dimana
kelompok yang kuat akan lebih mendominasi kelompok yang lemah. Konflik dianggap
hal yang mutlak dalam masyarakat dan dianggap sebagai pemicu terjadinya
perubahan sosial. Teori ini melihat masyarakat dalam dua kelompok atau kelas
yang saling berkonflik yaitu kelas Borjuis dan kelas Proletar.
3. Teori siklus
: Teori ini beranggapan bahwa perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat
itu tidak direncanakan atau diarahkan. Teori siklus ini membentuk pola yang
berulang.
C. Teori Klasik
dan Modern.
Menurut pandangan tokoh teori sosiologi
klasik tentang perubahan sosial dan akan menjelaskan fenomena perubahan sosial
sebagai berikut :
1. August Comte
: dalam menjelaskan fenomena perubahan sosial. Comte melihat pada proses
evolusi yang merupakan proses perubahan secara bertahap, dari daya pemikiran
masyarakat itu sendiri yang disebut dengan “evolusi intelektual”. Menurut
Comte, dalam kehidupan masyarakat banyak unsur kehidupan yang mengalami
perubahan secara evolusi. Diantara unsur tersebut harus memiliki pengaruh yang
lebih besar agar dapat mendorong terjadinya perubahan sosial. Pengaruh
terbesarnya adalah evolusi intelektual atau perubahan secara bertahap dalam
cara dan kekuatan berpikir.
2. Karl Marx
: menurut Karl Marx kehidupan individu
dan masyarakat itu dirasakan pada aspek ekonomi. Menurutnya, perubahan dalam
infrastuktur ekonomi masyarakat merupakan pendorong utama terhadap perubahan
sosial. Infrastuktur yang dimaksud adalah hubungan-hubungan produksi. Perubahan
dalam infrastuktur ekonomi ini akan mendorong perubahan dalam suprastuktur
yaitu terdiri dari kelembagaan sosial masyarakat secara keseluruhan seperti
hukum, politik dan Lembaga keagamaan. Perubahan ekonomi merupakan pondasi yang
menimbulkan perubahan dalam sistem sosial.
3. Emile
Durkheim : pandangan Durkheim tentang perubahan sosial dapat dilihat dari
uraian mengenai proses pergeseran masyarakat dari ikatan solidaritas mekanistis
ke ikatan solidaritas organistik. Ikatan solidaritas mekanistis terdapat dalam
masyarakat yang masih tradisional, sementara ikatan solidaritas organik
terdapat dalam masyaraat modern. Dengan bertambahnya penduduk dan kebutuhan
hidup serta kebutuhan kelembagaan semaki meluas, maka perkembangan ini menuntut
adanya diferensasi (pembedaan) dalam pembagian kerja dalam masyarakat. Durkheim
menjelaskan bahwa semakin berkembangnya pembagian kerja, maka semakin
berkembang pula semangat individualisme. Dengan begitu, kesadaran kolektif akan
tergerus dan ikatan solidaritas masyarakat tidak lagi bersifat mekanistis. Solidaritas
tumbuh karena adanya saling ketergantungan antarmasyarakat dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dengan tercapainya ketergantungan, maka dikenal dengan
konsep solodaritas organik, dengan pergeseran dari kesadaran kolektif yang
diikat oleh solidaritas mekanik ke solidaritas sosial yang diikat oleh
solidaritas organik yang lebih rasional. Dalam kondisi ini, telah terjadi
proses perubahan sosial.
4. Max Weber :
menurutnya, suatu dapat disebut masyarakat kapitalis apabila masyarakat
bercita-cita mendapatkan keuntungan atau kekayaan. Dalam hal ini dianggap
sebagai sesuatu yang bersifat etis dan rasional. Dalam hal ini, weber
menguraikan terjadinya perubahan nilai sosial di kalangan masyarakat secara
tradisionalis menganut paham katolokisme yang berabad-abad pertengahan
orientasinya cenderung menjauhkan masyarakat dari usaha untuk mengubah kondisi
ekonomi. Perubahan nilai terjadi ketika muncul etika protestan yang
bertentangan dengan katolikisme. menurut Max Weber, etika protestan yang
menentang tradisionalisme itu adalah persoalan siklus dosa dan penyesalan. Menurut etika protestan, orang yang mampu
menguasai dirinya serta menetapkan tujuannya adalah mereka yang bersikap dan
bertindak secara sistematis dan metodologis.
Teori sosiologi modern akan lebih
memusatkan analisisnya pada aliran sosiologi. Pergeseran dari ahli teori secara
individual kedalam aliran sosiologi menunjukkan bahwa sosiologi mengalami
perubahan. Bernard Baho dalam buku teori sosiologi modern menjelaskan teori
sosiologi modern sebagai berikut :
1. Teori
fungsionalisme struktural : Teori
Fungsionalisme Struktural memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri
atas bagian-bagian saling berhubungan satu sama lain. Dalam teori
ini, jika salah satu bagian menjadi tidak berfungsi tanpa adanya hubungan
dengan bagian lain.perubahan pada salah satu bagian akan menimbulkan
ketidakseimbangan yang berpengaruh menciptakan perubahan di bagian lain.
2. Teori konflik : Teori konflik memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial
yang terdiri dari bagian-bagian yang memiliki kepentingan berbeda-beda. Satu
komponen akan berusaha menaklukkan komponen lain demi memenuhi kepentingan atau
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
D. Bentuk Perubahan
Sosial.
1. Bentuk
perubahan sosial berdasarkan prosesnya. Dalam perubahan sosial berdasarkan
proses ini terdapat dua bentuk yaitu :
a. Perubahan
yang direncanakan (planned-change) : perubahan yang direncanakan
merupakan perubahan yang terorganisir dengan baik. Perubahan ini dilakukan oleh
pihak yang menginginkan perubahan. Misalnya perubahan yang direncanakan adalah
menggunakan e-book sebagai pengganti dari buku berbentuk fisik.
b. Perubahan
yang tidak direncanakan (unplanned-change) : perubahan yang terjadi di
dalam masyarakat tidak direncanakan atau diluar rencana. Perubahan ini dapat
menimbulkan dampak yang akan merugikan masyarakat. Misalnya kemunculan internet
yang diharapkan dapat memudahkan manusia untuk menyampaikan informasi tetapi
disalahgunakan oleh beberapa pihak untuk kegiatan yang negatif.
2. Bentuk
perubahan sosial berdasarkan waktunya. Berdasarkan sudut pandang waktu,
perubahan sosial dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Perubahan
secara cepat (revolusi) : perubahan ini terjadi dalam waktu singkat dan cepat.
Perubahan dikatakan revolusi apabila ada keinginan umum dalam mayarakat, ada
pemimpin, ada tujuan yang ingin dicapai bersama dan ada momentum (waktu yang
tepat).
b. Perubahan
secara lambat (evolusi) : evolusi merupakan perubahan yang berlangsung lama dan
sering tanpa perencanaan. Perubahan ini timbul dengan penyesuaian panjang yang
dilakukan masyarakat secara bertahap secara alami tanpa perencanaan, sehingga
perubahan ini berlangsung lama.
3. Bentuk
perubahan sosial berdasarkan dampaknya. Dalam perubahan sosial berdasarkan
dampaknya ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Perubahan
kecil : Perubahan ini berdampak kecil pada sebagian masyarakat dan tidak
memberi pengaruh pada struktur sosial masyarakat secara luas dan keseluruhan.
Misalnya perubahan pada model telepon seluler yang akan selalu berubah dari
waktu ke waktu.
b. Perubahan
besar : perubahan sosial memiliki pengaruh besar terhadap struktur sosial yang
ada dalam masyarakat. Perubahan ini akan berakibat langsung pada masyarakat.
Misalnya adalah perkembangan modernisasi yang menyebabkan perubahan pada
Lembaga keluarga. Fungsi sosialisasi dalam keluarga tidak dapat terpenuhi oleh
orang tua yang disebabkan kesibukan dalam bekerja.
E. Ciri-Ciri
Perubahan Sosial.
Perubahan sosial yang terjadi di dalam
masyarakat memiliki beberapa ciri yaitu :
1. Setiap
masyarakat mengalami perubahan baik perubahan yang cepat maupun lambat,
sehingga tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya.
2. Perubahan
yang terjadi pada suatu Lembaga kemasyarakatan akan diikuti oleh perubahan pada
Lembaga-lembaga sosial lainnya.
3. Perubahan
sosial terjadi dalam bidang material (nilai yang ada wujudnya atau nilai
jasmani) dan immaterial (nilai yang tidak ada wujudnya atau nilai rohani)
karena keduanya memiliki hubungan timbal balik.
F. Faktor Penyebab
Terjadinya Perubahan Sosial.
Terdapat 3 aliran atau madzab yang dapat
menjelaskan penyebab terjadinya perubahan sosial yaitu :
1. Madzab
materialistik (Maxtrian) : memiliki alasan bahwa perubahan sosial itu digerakkan
oleh materi sehingga mampu melakukan terobosan terhadap kegiatan produksi,
kegiatan ekonomi dan teknologi produksi manusia.
2. Madzab
idealistik (Platonian) : memiliki alasan bahwa perubahan sosial banyak
dipengaruhi oleh adanya cara berpikir serta tata nilai dan kepercayaan.
3. Madzab
gagasan dan gerakan budaya : memiliki pandangan bahwa perubahan sosial akan
terjadi selaras dengan perubahan pada nilai-nilai budaya setempat. Hal ini
merupakan akibat dari faktor dari luar maupun dari dalam masyarakat itu
sendiri.
Setiap perubahan yang terjadi di dalam
masyarakat tentu diakibatkan oleh adanya suatu sebab-sebab yang menimbulkannya.
Demikian juga dengan perubahan sosial, perubahan sosial yang terjadi di
masyarakat disebabkan oleh adanya beberapa faktor yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Beberapa faktor internal dari perubahan sosial yaitu :
1. Adanya
inovasi : Inovasi sangat berpengaruh dalam perubahan sosial. Terjadinya inovasi
dimulai dengan adanya penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan. temuan baru ini
dimaksudkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Penemuan baru tersebut
dikembangkan dalam masyarakat dan akan menimbulkan dampak pembaharuan atau
terjadi perubahan dari kondisi sebelumnya.
2. Adanya
perubahan struktur dan jumlah penduduk : Perubahan jumlah penduduk pada
prinsipnya dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kelahiran, kematian dan migrasi.
Perubahan jumlah penduduk tersebut akan berpengaruh pada terhadap berbagai segi
kehidupan masyarakat. Perubahan penduduk juga akan berpengaruh pada struktur
kemasyarakatan.
3. Adanya
gerakan sosial baru : Ada beberapa faktor yang mendorong timbulnya Gerakan
sosial baru yaitu :
a. Terjadinya
kegagalan sosial dalam suatu institusi atau organisasi sosial kemasyarakatan.
b. Adanya
ketidakpuasan individu dalam kelompok masyarakat.
c. Timbulnya
keresahan dan kegelisahan sosial dalam masyarakat yang ditampakkan dalam
pendapat umum atau opini publik.
d. Adanya
peluang untuk membentuk institusi baru atau tatanan baru yang dianggap mampu
memenuhi harapan masyarakat kedepannya.
4. Adanya
konflik sosial dalam masyarakat : Konflik sosial bisa terjadi akibat adanya
perbedaan kepentingan antar kelompok dalam masyarakat baik yang bersifat
konflik terbuka atau yang bersifat konflik terselubung dan juga dapat terjadi
karena adanya perbedaan pandangan terhadap nilai sosial budaya dalam masyarakat
dan akibat adanya kesenjangan generasi.
Berikut adalah beberapa faktor eksternal
penyebab dari perubahan sosial yaitu :
1. Adanya
inovasi di bidang komunikasi, informasi dan teknologi : Seiring dengan
berkembangnya komunikasi, informasi dan teknologi maka proses inovasi tidak
hanya terjadi secara intern saja melainkan juga ekstern.
2. Adanya
peperangan : Peperangan akan mengakibatkan terjadinya perubahan khususnya
perubahan sosial budaya. Hal itu karena pihak yang menang akan menanamkan
kondisi sosial budaya mereka terhadap pihak yang kalah. Pertemuan dari kedua
budaya tersebut akan mengakibatkan akulturasi budaya yang pada akhirnya akan
menimbulkan kebudayaan baru dalam masyarakat.
3. Adanya
perubahan lingkungan atau ekologi : Perubahan lingkungan terutama perubahan
lingkungan fisik akan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial dalam
masyarakat. Perubahan lingkungan fisik umumnya terjadi karena faktor alam
seperti bencana alam.
4. Adanya
pengaruh dari kebudayaan masyarakat lain : Kebudayaan lain yang masuk melalui
globalisasi menjadi penyebab perubahan sosial di suatu masyarakat. Pertemuan
dari dua kebudayaan akan mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya, yang pada
akhirnya menyebabkan timbul kebudayaan dan peradaban baru pula.
G. Dampak
Perubahan Sosial.
Dampak dari perubahan sosial ini terdapat
dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya adalah :
1. Munculnya
penemuan baru yang dapat memudahkan keberlangsungan kehidupan manusia dan dapat
membantu aktivitas manusia. Contohnya dengan penemuan internet, telepon,
handphone dan lainnya.
2. Munculnya
nilai dan norma baru yang lebih relevan. Norma atau nilai lama yang sudah tidak
relevan dapat diperbarui menjadi nilai dan norma yang lebih relevan untuk
diterapkan. Contohnya adalah munculnya undang-undang informatika dan transaksi
elektronik akibat adanya perkembangan teknologi.
3. Munculnya
Lembaga atau institusi baru. Seiring dengan adanya perubahan sosial muncul
beberapa Lembaga yang menaungi masyarakat. Contohnya adalah International
Labor Oganization yaitu merupakan Lembaga yang melindungi hak-hak buruh.
Dampak negatif dari perubahan sosial ini
adalah :
1. Perubahan
yang terlalu cepat dapat menyebabkan nilai dan norma lama sudah tidak relevan
tetapi nilai dan norma baru belum terbentuk. Akibatnya, orang akan menjadi
kehilangan nilai untuk dipegang.
2. Kemunduran
moral. Contoh dari kemunduran moral ini adalah banyaknya berita hoaks dan dan
ujaran kebencian di media sosial.
3. Munculnya
konflik sosial yang dapat menimbulkan perpecahan. Perubahan juga akan
menimbulkan konflik sosial. Contohya adalah wacana perang nuklir dimana akan
sangat berbahaya apabila sampai terjadi perang nuklir.
BAB VII
PERUBAHAN KEBUDAYAAN
(CULTURAL CHANGE)
A. Pengertian
Perubahan Kebudayaan.
Perubahan kebudayaan merupakan perubahan yang terjadi dalam sistem yang
menyangkut ide dalam kehidupan masyarakat. Atau bisa juga diartikan dengan
suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dari cara masyarakat dalam
memenuhi kebutuhannya. Perubahan kebudayaan terjadi sesuai dengan perkembangan
masyarakat pendukungnya. Jika tidak ada dukungan dari masyarakat, maka tidak
akan terjadi perubahan baik itu perubahan positif atau perubahan negatif.
Perubahan kebudayaan lebih
mengacu pada sebuah perubahan dalam tata sosial didalam masyarakat. Perubahan
kebudayaan ini dapat terjadi secara cepat maupun lambat dan umumnya tidak
disadari oleh masyarakat. Perubahan kebudayaan terjadi karena kondisi ketidaksesuaian
antara unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat dan akhirnya menciptakan
keadaan yang tidak serasi bagi kehidupan. Menurut Samuel Koening bahwa
perubahan kebudayaan adalah suatu cara untuk memodifikasi hal yang ada dalam
pola kehidupan manusia. Terjadinya modifikasi ini disebabkan oleh faktor
internal da faktor eksternal. Sedangkan, menurut Selo Soemardjan perubahan
kebudayaan adalah semua perubahan yang terjadi pada Lembaga kemasyarakatan yang
dapat mempengaruhi suatu sistem sosial, baik itu sikap, nilai-nilai maupun pola
perilaku yang ada diantara kelompok dalam masyarakat.
B. Bentuk
Perubahan Kebudayaan.
Perubahan kebudayaan dapat dibedakan ke
dalam beberapa bentuk yaitu :
1. Perubahan
yang terjadi secara lambat : perubahan ini dapat diartikan dengan istilah
evolusi. Perubahan ini terjadi karena terdapat dorongan dari usaha masyarakat
untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidup terhadap
perkembangan masyarakat pada waktu tertentu. Proses perubahan ini tanpa ada
kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan.
2. Perubahan
yang terjadi secara cepat : perubahan ini dapat diartikan dengan istilah
revolusi. Perubahan ini terjadi bisa karena memang sebelumnya sudah drencanakan
atau tidak direncanakan.
3. Perubahan-perubahan
yang memiliki pengaruh kecil : perubahan ini dapat diartikan dengan perubahan
yang terjadi pada unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung
atau pengaruh yang berarti pada masyarakat.
4. Perubahan-perubahan
yang memiliki pengaruh besar : perubahan ini dapat diartikan dengan perubahan
yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang memberi pengaruh langsung
atau berarti bagi masyarakat.
5. Perubahan
yang direncanakan atau dikehendaki : perubahan ini terjadi karena adanya perkiraan
atau perencanaan oleh pihak yang menghendaki perubahan tersebut (agen of
change).
6. Perubahan
yang tidak direncanakan : perubahan ini berlangsung diluar kehendak dan
pengawasan masyarakat. Perubahan yang tidak direncanakan ini biasanya
menimbulkan pertentangan yang dapat merugikan masyarakat yang bersangkutan
dengan perubahan ini.
C. Faktor
Terjadinya Perubahan Kebudayaan.
Perubahan kebudayaan terjadi karena adanya
faktor-faktor tertentu. Factor tersebut meliputi faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal dari perubahan kebudayaan adalah :
1. Terjadinya
perubahan demografis. Perubahan kebudayaan bisa disebabkan oleh bertambahnya
atau berkurangnya penduduk.
2. Adanya
penemuan baru. Penemuan-penemuan baru tersebut berupa ide atau alat yang dapat
membantu kegiatan manusia atau memperbarui dan mengganti yang sudah ada.
3. Adanya
konflik sosial dalam masyarakat. Dengan adanya konflik sosial, maka dapat
merubah orang yang ada dalam masyarakat tersebut.
4. Adanya
pemberontakan. Pemberontakan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya
perubahan kebudayaan pada struktur pemerintahan.
Faktor eksternal dari perubahan kebudayaan
adalah :
1. Terjadinya
peperangan. Dengan adanya peperangan, maka akan terjadi perubahan pada
unsur-unsur budaya pada suatu negara baik dalam unsur ekonomi, pengetahuan,
teknologi, Bahasa maupun system kemasyarakatan.
2. Terjadinya
perubahan alam yang berasal dari lingkungan yang ada disekitar manusia.
Perubahan alam tersebut merupakan perubahan lingkungan fisik yang disebabkan
karena bencana alam. Dengan terjadinya bencana alam, maka akan terjadi banyak
perubahan dalam kehidupan.
3. Pengaruh
kebudayaan lain. Dengan adanya pengaruh kebudayaan lain, maka akan semakin
mudah terjadi pada masyarakat yang terbuka. Karena, masyarakat terbuka akan
menerima dengan mudah kebudayaan lain. Dengan bertemuanya antar kebudayaan,
maka akan menimbulkan kebudayaan baru.
D. Dampak
Perubahan Kebudayaan.
Dampak perubahan budaya dapat dibagi
menjadi dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif dari perubahan
kebudayaan ini adalah :
1. Masyarakat
yang memiliki Pendidikan yang maju, masyarakat tersebut akan memiliki pola
pikir yang kritis.
2. Masyarakat
yang semakin dimudahkan dengan adanya berbagai peralatan canggih yang membantu
kegiatan sehari-harinya tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak.
3. Barang dan
jasa tersedia lebih banyak.
4. Masyarakat
terdorong berusaha meningkatkan kemampuannya agar bisa berperan dalam
pembangunan.
Dampak negatif dari perubahan kebudayaan
ini adalah :
1. Kesenian
yang tradisional sudah jarang dikenal karena terdesak oleh kesenian yang lebih
modern, begitu pula dengan peralatan tradisional yang perlahan sudah tidak
dapat ditemukan lagi dikarenkan telah terdorong oleh peralatan modern yang
lebih praktis dan hemat waktu daripada peralatan tradisional.
2. Kerja fisik
manusia perlahan tergantikan oleh kerja mesin, sehingga banyak masyarakat yang
mengalami pengangguran.
3. Muncul sikap
individualis, materialis dan sikap hidup mewah dalam kehidupan sosial, terutama
orang yang memiliki perekonomian yang bagus.
4. Nilai-nilai
rohani semakin tergerus.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halik,
2013, Komunikasi Massa, Makassar : Alaudin University Press.
Baharuddin. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan.
Damayanti, dkk.
2012, Efektifitas Variety Show Program Keluarga Berencana Melalui Media
Televisi, Jurnal Komunikasi Pembangunan, Vol.10 No.2.
Goa, Lorentius. Perubahan Sosial dalam Kehidupan
Bermasyarakat.
Hasmayati, Etty. 2016. MODEL KOMUNIKASI ORANG TUA TUNARUNGU YANG
MEMILIKI ANAK MENDENGAR. Jurnal Vol. 1 No. 2
Kusumadinata, Ali Alamsyah. 2015. Pengantar
Komunikasi Perubahan Sosial. Yogyakarta : Deepublish.
Mahyuddin, Sosiologi Komunikasi : Dinamika Relasi Sosial di dalam Era
Virtualitas, Makassar: Penerbit Shofia, 2019.
Marius, Jelamu Ardu. 2006. Perubahan Sosial. Jurnal
Penyuluhan. Vol. 2 No. 2.
Maryati, kun. 2001. Sosiologi 2. Penerbit Erlangga.
Maryanto, Lilis Noor Azizah. 2019. Perubahan Sosial Budaya Masyarakat
Desa Ngebalrejo Akibat Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Indonesian
Journal of Social Science Education (IJSSE). Vol. 1 No. 2
Murdiyatmoko, Janu. Sosiologi Memahami dan Mengkaji
Masyarakat. PT. Grafindo Media Pratama.
Noviyanti, Rizka Dwi, dll. 2008. KOMUNIKASI
ANTARPRIBADI DALAM MENCIPTAKAN HARMONISASI (SUAMI DAN ISTRI) KELUARGA DIDESA
SAGEA KABUPATEN HALMAHERA TENGAH. Jurnal Acta Diurna Vol. 6 No. 2
Qudratullah,
2016, Peran dan Fungsi Komunikasi Massa, Jurnal Tabligh.
Radiah AP, Sosiologi Komunikasi, Makassar: Alaudin University
Press, 2012.
Raho, Bernard. 2021. Teori Sosiologi Modern. Flores :
Penerbit Ledalero
Rochadi, AF Sigit. 2020. Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial.
Penerbit CV. Rasi Terbit.
Santi Indra Astuti. 2003. Cultural Studies dalam Studi Komunikasi : Suatu
Pengantar. Jurnal Mediator Vol. 4 No. 1
Sarinah. 2016. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta : Deepublish.
Sasa Djuarsa Sendjaja, Memahami Teori Komunikasi : Pendekatan,
Pengertian, Kerangka, Analis, dan Perspektif. Modul.
Suryono, Agus. 2019. Teori dan Strategi Perubahan
Sosial. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Tualeka, M. Wahid Nur. 2017. Teori Komflik Sosiologi
Klasik dan Modern. Jurnal Al-Hikmah. Vol. 3 No. 1
Waluya, Bagja. 2007. Sosiologi Menyelam Fenomena Sosial di Masyarakat.
Penerbit PT. setia Purna Inves.
Wibowo, Rihadi dan Langgeng Nugroho. 2007. Ilmu Pengetahuan Sosial
Sosiologi. Penerbit Erlangga.
Wulandari, Hesti. 2014. Terorisme dan Kekerasan di Indonesia.
Penerbit Lulu.com.
Yadi Supriadi,
2017, Relasi Ruang Publik dan Pers Menurut Habermas, Kajian Jurnalisme,
Vol.1 No.1.
https://materiips.com/pengertian-perubahan-kebudayaan
https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/pengertian-perubahan-kebudayaan-8736/.
https://tirto.id/mengenal-teori-teori-sosiologi-modern-dan-penjelasan-singkatnya-gban

Comments
Post a Comment