Perilaku Kolektif dan Pengelompokan Manusia

A.    PERILAKU KOLEKTIF DAN GERAKAN SOSIAL.

Perilaku kolektif (collective behaviour) menurut Bruce J Cohen (1992) adalah jenis perilaku yang relatif tidak tersusun, bersifat spontan, emosinal dan tak terduga. Perilaku ini terjadi apabila cara-cara mengerjakan sesuatu yang telah dikukuhkan secara tradisional tidak lagi memadahi. Individu yang terlibat dalam perilaku kolektif tanggap terhadap rangsangan tertentu yang mungkin datang dari orang lain atau peristiwa khusus.

Perilaku kolektif pada mulanya dianggap sebagai perilaku menyimpang sehingga perilakunya dianggap irasional. Menurut Horton dan Hunt perilaku kolektif adalah perilaku yang dilakukan oleh sejumlah orang secara bersama-sama dan tidak bersifat rutin. Dan merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu. Perilaku kolektif cenferung sangat spontan yang dihasilkan dari pengalaman mereka yang terlibat dan dibagikan oleh anggota kelompok yang menimbulkan rasa minat dan identitas yang sama. Ciri-ciri perilaku kolektif :

1.      Peilaku yang dilakukan bersama-sama oleh sejumlah orang.

2.      Perilaku yang bersifat spontanitas dan tidak terstruktur.

3.      Perilaku yang tidak bersifat rutin.

4.      Perilaku yang merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.

5.      Dipacu oleh beberapa rancangan masalah.

Macam-macam perilaku kolektif :

1.      Kerumunan (crowd) : sekumpulan orang yang ada pada suatu tempat dan suatu waktu secara bersama yang sifatnya sementara. Kerumunan mempunyai beberapa bentuk yang ada dalam masyarakat yaitu :

a.    Casual crowd : contohnya sekelompok orang yang berada diujung jalan dan tidak memiliki maksud apa-apa.

b.    Conventional crowd : contohnya audience yang mendengarkan ceramah.

c.  Expressive crowd : contohnya sekumpulan orang yang sedang memonton konser musik yang ikut menari dan menyanyi.

d.  Acting crowd : contohnya sekelompok massa yang sedang melakukan tindakan kekerasan.

 

Bentuk kerumunan yang sering dijumpai dalam masyarakat adalah :

a. Kerumunan yang beraktikulasi dengan struktur sosial. Terdapat formal audience dan expensive group. Formal audience adalah khalayak pendengar atau penonton yang merupakan kerumunan yang mempunyai pusat perhatan dan persamaan tujuan. Expensive group adalah kerumunan yang perhatiannya tidak begitu pentingtetapi mempunyai persamaan tujuan yang terpusat dalam aktivitas kerumunan.

b.  Kerumunan bersifat sementara. Terdapat inconvenient agreegations, panic crowds dan spectator crowds. Inconvenient agreegations adalah kumpulan yang kurang menyenangkan. Dalam kerumunan tersebut kehadiran orang lain merupakan penghalang terhadap tercapainya maksud atau tujuan seseorang. Panic crowds adalah kerumunan orang yang sedang dalam keadaan panik. Spectator crowds adalah kerumunan penonton yang ingin melihat kejadian tertentu. Kejadian yang terjadi umumnya tidak terkendali.

c.  Kerumunan yang berlawanan dengan norma hukum. (lawless crowds). Terdapat acting mobs dan immoral crowds. Acting crowds adalah kerumunan yang bertindak emosional dan sifatnya tidak terkendali. Immoral crowds adalah kerumunan yang tindakannya berlawanan dengan norma masyarakat.

d.  Kerumunan pasif adalah individu hanya berkumpul secara fisik, bersikap tenang dan tidak memiliki tujuan tertentu.

e.   Unjuk rasa adalah kerumunan yang bersifat lebih teratur daripada himpunan penonton.

f.   Kerumunan berdasarkan tempat tinggal. Kerumunan ini berdasarkan orang yang mempunyai tempat tinggal yang sama, tetapi tidak saling mengenal.

g.    Kerumunan fungsional adalah sekumpulan orang yang mempunyai tugas atau fungsi tertentu.

2.  MOB atau massa adalah kerumunan yang emosional yang cenderung melakukan kekerasan atau penyimpangan dan tindakan destruktif.  Umunya melakukan Tindakan melawan tatanan sosial yang ada secara langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, frustasi adanya perasaan dicederai oleh institusi yang telah mapan atau lebih tinggi. Bila MOB dalam sekala besar maka akan menjadi kerusuhan massa.

3.  Panik adalah bentuk dari perilaku kolektif yang tindakannya merupakan reaksi terhadap ancaman yang muncul didalam kelompok tersebut. Biasanya berhubungan dengan kejadian-kejadian bencana. Tindakan reaksi mass aini cenderung terjadi pada awal suatu kejadian dan hal ini tidak terjadi ketika mereka mulai tenang. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini adalah histeria massa. Pada histeria mass aini terjadi kecemasan yang berlebihan oleh masyarakat.

4.    Opini pulik adalah sekelompok orang yang memiliki pendapat yang berbeda mengenai suatu hal dalam masyarakat. Dalam opini publik ini, antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan atau perspektif. Konflik bisa sangat potensial terjadi pada masyarakat seperti adanya perbedaan pandangan antar masyarakat tentang hukuman mati, pemilu dan hal lainnya.

5. Propaganda adalah informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan atau membentuk opini publik. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya. Media komunikasi banyak digunakan dalam hal propaganda ini. Penampilan public figure kadangkala menjadi senjata ampuh untuk melakukan propaganda ini.

Faktor penentu perilaku kolektif yaitu :

1.   Situasi sosial. Situasi yang menyangkut ada atau tidaknya pengaturan dalam instansi tertentu.

2.   Ketegangan struktural. Adanya perbedaan atau kesenjangan di suatu wilayanh akan menimbulkan ketegangan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

3. Menyebarnya suatu kepercayaan umum. Berkembangnya isu-isu yang dapat menyinggung kelompok lain.

4.  Faktor yang mendahului. Yakni faktor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan yang dikandung massa. 

5.   Mobilisasi perilaku oleh pemimpin untuk bertindak. Perilaku kolektif akan terwujud apabila khalayak ramai dimobilisasi oleh pimpinannya.

Gerakan sosial merupakan salah satu bentuk perilaku kolektif pada umumnya. Gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan jangka Panjang untuk mengubah atau mempertahankan keadaan tertentu atau institusi yang ada dalam masyarakat seperti Gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1965-1966 yang dilakukan hamper setiap hari yang bertujuan untuk mengubah kebijakan ekonomi pemerintahan.

Gerakan sosial terbagi menjadi empat tipe berdasarkan tipe perubahan dan besarnya perubahan yang dikehendaki :

1.  Alternative movement. Merupakan Gerakan yang bertujuan mengubah Sebagian perilaku perorangan seperti kampanye agar tidak merokok dan lainnya.

2.   Redemtive movement. Merupakan gerakan untuk merubah pada perilaku perorangan khususnya bidnag agama seperti Gerakan untuk hidup sesuai ajaran agama.

3.   Revormative movement. Merupakan gerakan untuk merubah masyarakat dalam bidang bidang tertentu seperti gerakan kaum homo yang meminta pengakuan terhadap gaya hidup mereka.

4.   Transformative. Merupakan gerakan untuk mengubah masyarakat secara keseluruhan seperti gerakan kaum komunis untuk menciptakan kaum atau masyarakat komunis. 

B.     TEORI PERILAKU KOLEKTIF.

Ahli sosiologi menggunakan istilah perilaku kolektif mengacu pada perilaku sekelompok orang yang muncul secara spontan dan tidak terstruktur sebagai respon terhadap kejadian tertentu.

Secara teoritis, perilaku kolektif dapat dijelaskan dari berbagai sudut teori antara lain teori penyebaran, teori interaksionis, teori emergent-norm dan teori value-added. Kondisi pokok yang memicu munculnya perilaku kolektif menurut teori value-added adalah kesesuaian struktural, ketegangan struktural, perkembangannya kepercayaan umum, faktor yang mendahului, mobilisasi dan kontrol sosial.

Perilaku kolektif dapat berbentuk perilaku klektif yang tersebar, kerumunan dan Gerakan sosial. Perilaku kolektif yang tersebar meliputi fashion, rumor, dan publik. Sedangkan jenis kerumunan meliputi casual, connectional, expensive dan acting.

C.     TEORI PERILAKU SOSIAL KOLEKTIF.

Teori Perilaku Massa (Crowd Behaviour Theory). Dalam teori ini terdapat 3 teori yang menjelaskan bagaimana perilaku manusia yang berada dalam sebuah kerumunan atau massa yaitu :

1.   Teori Penularan (Crowd Behaviour Theory) : teori ini menjelaskan ketika seseorang terlibat dalam sebuah kerumunan, maka mereka tidak bisa berpikir secara rasional. Seorang tersebut akan mengikuti situasi dan tindakan yang ada dalam kerumunan tersebut. Mereka akan melakukan Tindakan irasional tanpa mereka sadari. Teori penularan ini adalah sebuah situasi yang bersifat sirkular atau sesuatu yang beredar dan menular kepada yang lainnya.

2.  Teori Konvergensi : menjelaskan bahwa sesungguhnya perilaku dari kerumunan disebabkan oleh kesepakatan. Teori ini menjelaskan bahwa orang yang tergabung dalam sebuah kerumunan itu memiliki kesamaan pemikiran sebelum seseorang tersebut gabung dalam kerumunan. Dalam teori ini juga terdapat kesamaan lainnya yaitu seperti kesamaan usia, latar belakang, nasib, pemikiran dan latar belakang Pendidikan yang sama.

3.   Teori Kemunculan Norma (The Emergence of Norma) : teori ini menjelaskan bahwa meskipun seseorang datang dengan pemahaman yang sama dalam sebuah kerumunan, kemudian akan memunculkan Tindakan baru yang melahirkan sebuah norma baru dan akan diikuti oleh semua orang dalam kerumunan tersebut.

Ketiga teori ini menjadi landasan untuk mempelajari teori yang disebut dengan Gerakan sosial.

D.    TEORI PERILAKU KOLEKTIF HARBERT BLUMER

Teori perilaku kolektif muncul pada paruh pertama abad 20 dan menjadi teori awal berkembangnya teori gerakan sosial harbert Blumer memiliki paradigma interaksisme simbolik dan Neil Smelser memiliki perspektif fungsionalisme struktural. Keduanya memiliki pandangan kritis satu sama lain. Pada dasarnya, keduanya tidak disatukan oleh pandangan mereka terhadap fenomena Gerakan sosial atau terhadap fenomena perilaku kolektif.

             Harbert Blumer adalah seorang tokoh yang merupakan anggota dari adzab Chicago. Madzab Chicago adalah sebuah kelompok ilmuan sosial yang menganut paradigma interaksi simbolik. Blumer bekerja di University of Chicago pada tahun 1930-1940 dan bekerja sama dengan gurunya yang bernama Robert E. Park yang mengembangkan teori perilaku kolektif dan memperkuat teori perilaku kolektif dalam kejian ilmu sosial di University of Chicago.

Blumer dan Park meyakini bahwa kehidupan sosial itu diibaratkan dengan perilaku kolektif karena kehidupan sosial pada hakikatnya adalah interaksi antar satu orang dengan orang lain dalam kelompok, keluarga maupun komunitas. Blumer dan Park memberikan perhatian pada interaksi ini, karena dengan interaksi ini suatu kelompok membangun dan melestarikan norma sosial dan mengatur orang-orang yang ada dalam kelompok sosial tersebut. Bagi Blumer, orang yang menentang norma-norma sosial yang mapan ini menjadi pembuat norma-norma sosial baru. 

Konsep perilaku kolektif yang dikenalkan oleh Blumer adalah :

1.  Masalah sosial : kondisi sosial tidak serta merta menjadi masalah sosial, kecuali seorang itu mendefinisikannya sebagai masalah sosial. Masalah sosial bagi blumer sangat bergantung pada interpretasi seseorang atas masalah yang dihadapi.

2.     Keluhan atas perilaku tidak adil : Munculnya situasi atau keluhan biasanya diebabkan oleh dua hal yaitu adanya perampasan dan peminggiran.

3.  Agitasi dan agitator : agitasi adalahproses mempengaruhi persepsi orang tentang kehidupan sosial mereka. Sedangkan, agitator adalah orang yang mempengaruhi. Keduanya menjadi relevan dalam pandangan blumer ketika masalah sosial itu tergantung pada interpretasi atau definisi seseorang.

4.  Kekacauan sosial : terjadi ketika individu dalam masyarakat kehilangan akal dan kepercayaan yang mereka miliki.

5.   Teori penularan : sebuah situasi ketika seorang yang berada dalam kelompok sosial tertentu itu terperangkap dalam emosi kelompok yang sedang bermasalah.

6.   Reaksi melingkar : respon seseorang terhadap orang lain dengan cara merefleksikan kembali perasaan yang ditunjukkan kepadanya.

7.   Kerumunan : ketika individu dalam kelompok atau masyarakat kehilangan kemampuan berfikir dan mengikuti kemauannya.

Asumsi perilaku kolektif :

1.  Bentuk perilaku kolektif baru yang berbeda dengan perilaku kolektif yang sudah mapan dapat muncul dalam masyarakat.

2. Kondisi sosial yang tidak menyenangkan yang dialami, seseorang tidak akan melakukan pemberontakan dikarenakan kondisi yang miskin dan menjadi budak yang selalu didefinisikan sebagai masalah.

3.     Perasaan diperlakukan tidak adil akan muncul ketika seseorang mendefinisikan situasi atau kondisi yang dialami.

4.      Perasaan diperlakukan tidak adil tidak akan mendorong terjadinya protes.

5.  Kerumunan adalah respon pertama dari sosial unrest ketika individu kehilangan kemampuan untuk menilai dan mengendalikan keadaan yang membuat individu mengikuti insting daripada akal.

E.     CONTOH PERILAKU KOLEKTIF.

Contoh perilaku kolektif dalam bentuk kerumunan car free day. Jenis kerumunan ini ialah solidaristic crowd. Solidaristic crowd sendiri diartikan sebagai kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan ideologi.

F.      ANALISA BERITA MENGENAI PERILAKU KOLEKTIF.

Dalam menganalisis kegiatan 1000 bunga save KPK ini menunjukkan perilaku kolektif yang ditimbulkan oleh masyarakat. Perilaku kolektif yang ditimbulkan oleh beberapa faktor yaitu faktor dari luar dan factor dari kelompok.

            Dalam kegiatan ini, salah satu perilaku kolektif yang ditimbulkan oleh kelompok yang disebabkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Karena DPR mengesahkan tentang revisi UU KPK yang dapat melemahkan tugas pemberantasan korupsi di Indonesia. Ketika masyarakat tahu tentang pengesahan UU ini, masyarakat tidak terima dan secara spontan langsung melakukan unjuk rasa untuk membatalkan revisi UU tersebut. Padahal fungsi KPK sendiri sangatlah pentind di Indonesia dikarenakan banyak pejabat negara maupun masyarakat biasa yang melakukan korupsi.

G.    PENJELASAN KELOMPOK SOSIAL DAN CONTOHNYA.

Kelompok sosial menurut Joseph S. Roucek yaitu sebuah kelompok yang meliputi dua orang atau lebih. Diantara mereka terdapat pola interaksi yang bisa dipahami oleh pihak lain atau anggotanya sendiri secara keseluruhan. Menurut Soerjono Soekanto kelompok sosial adalah suatu ketentuan atau himpunan manusia yang saling berkaitan diantara mereka dengan adanya timbal balik dan akan saling mempengaruhi. Menurut Robert K. Merton kelompok sosial adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.  

Kelompok sosial adalah sekumpulan individu yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Diantara individu tersebut akan timbul hubungan timbal balik yang lebih erat dan perasaan yang sama serta perilaku yang sama. Tidak semua individu layak disebut kelompok sosial. Menurut Robert K. Mertonterdapat 3 kriteria suatu kelompok, yaitu :

1.      Kelompok ditandai oleh sering terjadinya interaksi.

2.      Pihak yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok.

3.      Pihak yang berinteraksi didefinisikan oleh orang lain sebagai anggota kelompok.

Ciri-ciri kelompok sosial :

1.      Partisipasi aktif. Kesadaran dari setiap individu dalam kelompok sosial bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok sosial sehingga ia akan aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.

2.    Kesamaan yang dimiliki anggota. Setiap individu memiliki nasib, tujuan hidup dan cita-cita yang sama yang akan mempererat individu dalam kelompok sosial.

3.    Adanya struktur organisasi. Dalam kelompok sosial terdapat struktur tersendiri. Hal ini memungkinkan setiap anggota mendapat peran, fungsi dan kedudukan yang jelas.

4.   Adanya kegiatan yang dilakukan bersama. Adanya aktifitas bersama yang dilakukan semua anggota akan menciptakan interaksi dan pola perilaku aktif dari semua individu yang tergabung.

5.   Telah terbentuk selama jangka waktu tertentu. Kelompok belum bisa disebut kelompok sosial jika baru saja terbentuk dalam beberapa hari atau minggu. Hubungan antar individu dalam kelompok haruslah terbentuk sejak lama dan dilakukan selama beberapa bulan atau tahun.

6.    Ikatan yang erat antar anggota kelompok. Apabila individu mengalami kejadian yang mengakibatkan dampak tertentu, perilaku individu lain dalam kelompok juga akan terpengaruh.

7.      Memiliki peraturan atau norma. Kelompok sosial memiliki tujuan yang sama, dengan demikian akan diciptakan norma atau peraturan. Terbentuknya norma atau peraturan tentunya memiliki tujuan yang tegas dan harus ditaati demi tercapainya tujuan bersama.

Jenis kelompok sosial :

1.      Kelompok sosial terorganisir.

Kelompok sosial terorganisir terbagi menjadi beberapa kelompok :

a.  Kelompok dasar : kelompok yang berukuran relative kecil yang dibentuk karena adanya tujuan untuk melindungi anggota dari tekanan negatif kelompok besar yang telah mapan.

b.  Kelompok besar dan kecil : ditentukan dari jumlah anggota dan beban tugasnya.

c.    Kelompok primer dan sekunder : kelompok primer memiliki ciri hubungan erat antar anggotanya, setiap anggota saling berdekatan, memiliki ikatan emosional, dan memiliki solidaritas yang tinggi. Kelompok sekunder memiliki ciri hubungan yang tidak erat dan biasanya didasari oleh keterikatan karena kerjaan atau profesionalitas.

d.      In grup dan out grup : ketika seseorang menyebut “kami” seseorang tersebut adalah bagian kecil dari kelompok itu, dan ketika seseorang menyebut “mereka” seseorang bukan bagian dari kelompok tersebut.

e.     Paguyuban dan patembayan : kelompok paguyuban memiliki ikatan batin yang murni dan kedekatan sosial yang tinggi. Kelompok patembayan memiliki ikatan yang mekanis didasarkan atas misi bersama.

f.   Kelompok formal dan informal : kelompok formal adalah kelompok yang memiliki aturan-aturan yang sengaja diciptakan untuk mengatur hubungan antar anggotanya. Kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki aturan atau struktur organisasi yang secara tertulis atau legal.

g.      Kelompok keanggotaan dan kelompok acuan : kelompok keanggotaan adalah kelompok yang secara resmi menunjukkan seseorang sebagai anggotanya. Kelompok acuan adalah kelompok yang dijadikan acuan oleh mereka yang bukan anggotanya.

2.      Kelompok sosial tidak terorganisir.

Dalam kelompok sosial tidak terorganisir terdapat 3 jenis yaitu :

a.       Kerumunan adalah sekelompok orang yang berada di suatu tempat tetapi tidak memiliki pola hubungan yang bertahan lama.

b.  Publik merupakan kumpulan pribadi yang interaksinya berlangsung melalui perantara dan tidak langgeng.

c.  Massa merupakan kerumunan sosial dalam konteks urban dan modernitas. Kerumunan dibentuk oleh visi bersama.

H.    ILMU SOSIAL.

1.  Kelompok sosial adalah kumpulan manusia yang saling berinteraksi dan memiliki kesadaran bersama akan keanggotaannya dalam suatu kelompok. Kelompok sosial terbentuk karena tumbuhnya perasaan-perasaan bersama akibat interaksi yang sering terjadi diantara mereka. Sejak lahir, manusia memiliki 2 hasrat pokok dalam dirinya yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia dan keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekitarnya. Ciri-ciri kelompok sosial :

a.    Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan individu lainnya sehingga kerjasama dan interaksi untuk mencapai tujuan yang sama mudah terjadi.

b.      Anggota kelompok memiliki kesadaran bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang bersangkutan.

c.       Terdapat hubungan timbal balik.

d.  Mempunyai struktur sosial sehingga kelangsungan hidup tergantung kepada anggota dalam menjalankan peran.

e.      Memiliki norma dan aturan yang mengatur anggota.

f.   Merupakan kesatuan yang nyata sehingga dapat dibedakan dengan kelompok lainnya.

Terbentuknya kelompok sosial dipicu oleh naluri manusia yang tidak bisa sendiri dan ingin hidup bersama serta menyatu dengan manusia lainnya. Terdapat 2 faktor utama yang membuat seseorang bergabung dalam suatu kelompok adalah kedekatan dan kesamaan. Pembentukan kelompok akan diawali dengan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial yang akan menghasilkan proses sosial dalam interaksi sosial.

Syarat pembentukan kelompok sosial yaitu :

a.  Setiap anggota memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.

b.  Adanya kesamaan factor yang dimiliki anggota kelompok tersebut sehingga hubungan bertambah erat.

c.       Kelompok sosial memiliki struktur, kaidah dan pola perilaku tertentu.

d.  Kelompok sosial memiliki system dan berproses untuk membedakan dengan kerumunan.

Gejala yang menunjukkan bahwa setiap anggota kelompok menyadari bahwa ia adalah bagian dari kelompoknya adalah :

a.    Adanya sikap imitasi terhadap segala aspek dalam kelompok yang dilakukan melalui proses sosialisasi.

b.      Mengidentifikasikan dirinya terhadap kelompoknya.

c.    Internalisasi, yaitu suatu sikap dan perilaku seseorang yang menggambarkan pola perilaku suatu kelompok sosial.

d.      Keinginan untuk membela dan mempertahankan kelompoknya.

2.  Kelompok semu atau tidak teratur merupakan klelompok yang terbentuk ditengah pergaulan manusia. Kelompok ini terbentuk secara sementara dan tidak mungkin memiliki ikatan erat antar anggotanya. Kelompok semu tidak mempunyai aturan yang bersifat mengekang. Ciri dari kelompok semu adalah :

a.       Terbentuk secara tidak sengaja dan tanpa perencanaan.

b.      Tidak terorganisir.

c.       Interaksi antar anggota todak berlangsung terus menerus.

d.      Tidak ada kesadaran berkumpul.

e.       Kehadiran tidak konstan.

3.   Kelompok nyata atau teratur adalah kelompok yang terbentuk dengan satu ciri khusus yang sama, yaitu kehadiran selalu konstan. Ciri dari kelompok nyata adalah :

a.       Terbentuk secara sengaja dengan perencanaan sebelumnya.

b.      Terorganisir.

c.       Interaksi antar anggota berlangsung terus menerus.

d.      Adanya kesadaran berkelompok.

e.       Kehadirannya konstan.

4.      Kelompok sosial primer (primary group) merupakan kelompok yang jumlah anggotanya sedikit yang mempunyai hubungan dekat dan langgeng. Menurut George Homans kelompok sosial adalah sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang saling berinteraksi sehingga setiap orang akan bisa berkomunikasi secara langsung. Menurut Charles Horton Cooley kelompok sosial adalah pengelompokan anggota-anggota dalam masyarakat yang terorganisir secara adat berdasarkan hubungan adat maupun berdasarkan ikatan daerah.

                        Fungsi dari kelompok sosial primer :

a.   Membentuk nilai dasar human filantropis (berdasarkan cinta kasih terhadap sesama manusia).

b.      Mengembangkan kepekaan sosial dasar, religious, spiritual dan kultural.

c.       Menata kehidupan emosional dan spiritual.

d.      Membentuk kepribadian diri.

Ciri-ciri dari kelompok sosial primer :

a.       Terdapat interaksi sosial yang lebih erat antar anggotanya.

b.      Bersifat irrasional dan tidak didasari oleh pamrih.

c.   Hubungan sosial antar anggota kelompok lebih intensif dan saling mengenal kearah yang lebih dekat.

d.      Memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan masing-masing individu.

e.   Ruang lingkup kelompok primer ini adalah keluarga, tetangga, dan teman sebaya.

Keluarga dan teman sebaya sebagai kelompok sosial primer sangat berperan dalam proses pembentukan kepribadian. Keduanya mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah mampu membentuk kepribadian baik yang bisa diterima oleh masyarakat, mempu beradaptasi dan cepat berinteraksi yang menambah rasa kepercayaan diri, lebih mengenal nilai dan norma sosial yang berlaku, lebih mengenal kepribadian masing-masing dan saling memahami. Dampak negatifnya adalah bisa tumbuh menjadi individu yang memiliki kepribadian menyimpang, hilangnya rasa semangat dan menyukai hal-hal yang melanggar nilai dan norma sosial, memiliki kehidupan yang kelam, dan dijauhi oleh masyarakat karena perilaku yang buruk.  

5.   Kelompok sosial sekunder (secondary group) adalah kelompok-kelompok besar yang terdiri dari banyak orang. Hubungannya tidak harus mengenal secara pribadi. Biasanya kurang akrab dan mempunyai sifat tidak langgeng karena hanya didasari pada keuntungan bersama.

Kelompok sosial sekunder bertujuan mencapai suatu tujuan tertentu sehingga kelompok tersebut lebih mempunyai peran sebagai sarana bukan hanya tujuan. Kelompok sosial sekunder ini sifatnya formal, impersonal, parsial, dan dilandaskan pada pemanfaatan kelompok semata.

                        Ciri-ciri kelompok sosial sekunder :

a.       Anggotanya memiliki jumlah yang banyak.

b.      Bersifat rasional.

c.       Bersifat formal.

d.      Timbul perasaan kurang tentram antar anggota.

e.       Adanya spesialisasi yang sangat ekstrim.

6.  Nilai dan norma. Sama halnya dengan kelompok sosial secara umum, perilaku dari kelompok sangat dipengaruhi oleh nilai, norma dan peraturan dalam kelompok. Kegiatan apapun yang terdapat dalam kelompok tidak dilakukan secaa bebas, melainkan berdasarkan nilai dan norma. Nilai dan norma muncul dari proses interaksi antar anggota kelompok.

Referensi :

Maryati, kun. 2001. Sosiologi 2. Penerbit Erlangga.

Rochadi, AF Sigit. 2020. Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial. Penerbit CV. Rasi Terbit.

Wulandari, Hesti. 2014. Terorisme dan Kekerasan di Indonesia. Penerbit Lulu.com.

Waluya, Bagja. 2007. Sosiologi Menyelam Fenomena Sosial di Masyarakat. Penerbit PT. setia Purna Inves. 

Comments

Popular posts from this blog

[Jurnalistik Media Massa] Teknik Penulisan Berita

Perubahan Sosial (Social Change)