Teori-Teori Komunikasi Kontemporer.
TEORI KOMUNIKASI
Teori adalah
sekumpulan konstruks yang saling berkaitan dalam menjelaskan sebuah fenomena.
Sebenarnya teori itu bukan definisi, melainkan didalam teori tersebut terdapat
definisi. Menurut Littlejohn, fungsi teori ada
9 (sembilan) yaitu :
1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan : mengorganisasi dan
menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal.
2. Memfokuskan : hal-hal yang diamati harus jelas fokusnya.
3. Menjelaskan : teori harus bisa membuat penjelasan dari apa yang
diamatinya.
4. Mengamati : teori memberi petunjuk bagaimana cara mengamati suatu
objek yang sedang diamati.
5. Membuat prediksi : harus dibuat suatu perkiraan tentang hal yang
akan terjadi.
6. Heuristic : teori yang diciptakan dapat merangsang peneliti lainnya
untuk meneliti lebih dalam.
7. Komunikasi : teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka
terhadap kritikan-kritikan.
8. Kontrol atau mengawasi : teori berfungsi sebagai sarana pengendali
atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.
9. Generatif : teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial
dan kultural, serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.
Teori dibagi
menjadi 3 yaitu konsep, konstruk dan variabel. konsep merupakan generalisasi
hal-hal yang bersifat abstrak, konsep bisa diamati. Konstruk merupakan konsep
yang dapat diukur. Variabel merupakan konstruk yang memiliki variasi nilai.
Komunikasi
adalah pengiriman pesan dari komunikator atau sumber pesan kepada penerima yang
akan menimbulkan efek. Sebenarnya, komunikasi sulit didefinisikan karena setiap
orang dapat membuat pengertian tersendiri tentang komunikasi sesuai dengan apa
yang dipahaminya. Setiap orang mempunyai referensi tersendiri dalam dirinya
yang berasal dari pengetahuannya yang didapat selama belajar komunikasi.
Komunikasi
bersifat multi-disiplin yang dipengaruhi oleh sosiologi, antropologi,
psikologi, sastra, politik, matematika dan ilmu lainnya. Sehingga, ketika
belajar komunikasi otomatis juga harus mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya juga.
Cara
mempelajari teori komunikasi :
1. Memahami
teori berada pada ditingkatan konstruk.
2. Mengetahui
pada level apa fenomena yang diamati, apakah pada komuniasi interpersonal,
komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa.
3. Memahami
peta teori pada masing-masing level komunikasi (gambaran teori).
Teori Komunikasi Massa
Peta teori
komunikasi massa :
1. Sistem
sosial budaya (kajian makro) : menghubungkan isi dan istitusi media dengan
siste sosial budaya.
2. Media :
media dilihat sebagai isi dan institusi.
3. Khalayak
(kajian mikro) : menghubungkan antara isi edia dengan khalayak.
Jika melihat
fenomena komunikasi tapi hanya dari media saja tanpa dikaitkan dengan khalayak
atau sistem sosial budaya, maka ada 2 teori besar yaitu :
1. Teori
Semiotika : bagaimana caranya mengamati isi media tentang adanya simbol dan
pemaknaan.
2. Teori The
Medium Is The Message : karakteristik sebuah media itu akan menonjolkan
bagaimana pesan-pesan itu dibuat.
Kajian mikro
adalah kajian yang memperlihatkan isi media dengan khalayak. Ada 8 teori dalam
kajian mikro ini yaitu Teori Jaringan Komunikasi, Teori Difusi Komunikasi, Teori
Peluru, Teori Two Step Flow Communication, Teori Agenda Setting, Teori
Dependensi, Teori Multi Step of Communication. Dalam kajian makro ada 4
teori yaitu Teori Kultivasi, Teori Spiral of Silence, Teori Fungsional
Media, Marxist Teori.
TEORI KOMUNIKASI KONTEMPORER.
Dalam teori
komunikasi kontemporer ini akan membahas lebih dalam tentang Teori Cultural
Studies.
1. Sejarah
Teori Cultural Studies.
Pertama kali muncul di tengah semangat Neo-marxisme
pada tahun 1960 an yang berupaya untuk meredefinisikan marxisme sebagai
perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni budaya tertentu. Cultural Studies
berakar dari gagasan Karl Max yang mempunyai pandangan bahwa kapitalisme telah
menciptakan kelompok elite adiluhung untuk mengeksploitasi kelompok yang tidak
berkuasa atau lemah.
Hal ini menyebabkan kelompok yang lemah
merasa tidak memiliki control atas masa depan mereka. Hal ini juga yang
mendasari Richard Hoggart dan Raymond Williams mendirikan institusi bernama The
Birmingham Centre For Contemporary Cultural Studies atau yang disebut
dengan CCCS yang didirikan pada tahun 1964. Para pendiri cultural studies
sama-sama berlatar belakang dari kelas pekerja. Mereka mempunyai cara pandang
yang sama dan memandang kritis tentang asal muasal mereka yang berkiprah di
tengah yang pada umumnya didominasi oleh budaya elite.
Dari sini mulai muncul semangat perlawanan
terhadap budaya elite yang dikontraskan dengan budaya jelata. Para pendiri cultural
studies berlatar belakang Pendidikan sastra yang membuat kajian tentang
bentuk dan ekspresi budaya yang mencakup budaya tinggi dan budaya rendah dan
juga mengemukakan sejumlah teori tentang kaitannya antara keduanya sebagai formasi
sosial historis.
Jurnal pertama mereka terbit ada tahun 1972
yang berjudul “Working Papers In Cultural Studies” yang diterbitkan
dengan tujuan khusus yaitu untuk mendefinisikan dan mengisi sebuah ruang serta
meletakkan cultural studies pada peta intelektual.
2. Tokoh.
a. Richard
Hoggart merupakan seorang dosen sastra inggris di Universitas Birmingham.
Karyanya yang paling terkenal adalah “The Uses of Literacy” yang terbit pada
tahun 1957. Dalam karyanya tersebut Hoggart menyatakan bahwa “pembacaan kritis
terhadap seni dapat menampakkan kualitas perasaan kehidupan suatu masyarakat,
hanya seni yang dapat menciptakan kembali kehidupan dalam segala keragaman dan
kompleksitasnya yang kaya dan hanya seni juga yang sanggup membawa kita keluar
dari pengalaman keseharian yang terikat waktu.”
Sangat disayangkan, menurut Hoggart bahwa
di kelas pekerja itu terjepit oleh elit media sehingga seni yang seharusnya
bisa menjadi sarana evakuasi subjek dan menyelamatkan dari hidup yang terikat
waktu, akhirnya malah menjadi alat penindasan baru sehingga tidak terbebaskan.
Menurut Hoggart, sebelum perang dunia ke-2
kehidupan para pekerja Inggris sangat autentik. Kehidupan mereka dan budaya
Inggris menjadi keseluruhan yang saling berhubungan. Klub pekerja pria
bergabung secara langsung secara rapi dengan struktur keluarga, pola Bahasa dan
aktivitas menciptakan kehidupan yang kaya serta saling berhubungan. Namun,
sejak diimpornya media hiburan dari Amerika seperti film, program tv, music,
komik, majalah dan novel kehidupan mereka menjadi terbelah dengan budaya sosial
pekerja Inggris sebelumnya. Budaya dari Amerika ini dapat disebut budaya massa
yang bersifat dangkal dan penuh pura-pura.
b. Raymond
Williams merupakan dosen ilmu politik di Universitas Oxford. Karyanya yang
paling terkenal adalah “Culture and Society” pada tahun 1958, lalu
kemudian “The Long Revolution” yang terbit pada tahun 1961. Dalam
karyanya tersebut, Williams menyatakan bahwa kebudayaan sebagai ekspresi
spesifik dari komunitas organik yang koheren dan melawan determinasi dalam
segala bentuk.
Williams mengatakan bahwa budaya adalah
sebuah entitas yang seluruhnya eksklusif, suatu keseluruhan, cara hidup,
material, intelektual dan spiritual. Dengan kata lain, nilai sosial dapat
digunakan untuk mendukung dan menopang struktur ideologis yang ada sekaligus
sebagai ekspresi yang merendahkan orang awam.
c. E.P.Thompson
merupakan wakil presiden CND, karyanya yang paling terkenal adalah “The
Making of The English Working” yang terbit pada tahun 1978. Menurutnya,
kelas pekerja Inggris itu muncul dalam periodesasi secara tertentu. Dengan
memahami ini, kita dapat menemukan kembali perantara, perhatian dan pengalaman
masa populasi Inggris yang telah diabaikan oleh tradisi sejarah konvensional
yang dominan.
Menurutnya, untuk memahami kelas sosial
sangat penting melihatnya sebagai formasi sosial dan kultural yang muncul dari
proses yang hanya dapat dipelajari selagi mereka membentuk dirinya pada suatu
periode sejarah tertentu.
d. Stuart Hall merupakan
sosiolog di Universitas Birmingham. Hall menaruh perhatiannya kepada
terpinggirkannya budaya black Atlantic atau Negro di Inggris. Upaya untuk
melawan peminggiran budaya ini dapat dilakukan dengan politik identitas atau
politik representasi. Adapun tahap untuk mencapai politik identitas itu ada 3
yaitu :
-
Mereduksi konflik internal : gunanya untuk
menciptakan sebuah integrasi.
-
Menciptakan konsensus : ingin seperti apa
ketika kelompoknya dilihat oleh orang lain.
-
Mencapi ruang publik : dengan cara
demonstrasi atau unjuk rasa untuk bisa mencapai ruang publik.
Culture studies bisa juga disebut anti-disiplin. Karena secara bebas meminjam beragam
disiplin ilmu di ranah sosial humaniora baik berupa teorinya culture studies
bisa dikatakan tidak memiliki batasan yang jelas. Seluruh teori dari ilmu
filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi dan lainnya itu tercakup dalam culture
studies dikarenakan culture studies tidak ingin membatasi kita dalam
memandang dan melihat suatu fenomena.
Sardan dan Van loon merinci karakteristik culture studies yaitu :
-
Culture studies bertujuan untuk mengkaji pokok persoalan
dari sudut praktik budaya dan hubungannya dengan kekuasaan.
-
Culture studies tidak hanya studi tentang budaya melainkan
memahami budaya dalam segala bentuk kompleksnya dan menganalisis konteks sosial
dan politik.
-
Budaya dalam culture studies
menampilkan dua fungsi yang merupakan objek studi maupun lokasi Tindakan dan
kritisme politik.
-
Culture studies berupaya membongkar dan mendamaikan pembatasan
pengetahuan serta mengatasi perpecahan antara bentuk pengetahuan yang tak
tersirat dan objektif.
-
Culture studies melibatkan dirinya dengan evaluasi moral
masyarakat modern dan dengan garis radikal Tindakan politik.
TEORI STIMULUS ORGANISM RESPONSE (SOR)
Teori SOR
ini dikembangkan oleh Houland pada tahun 1953. Teori ini berangkat karena
adanya pengaruh dari ilmu psikologi dan ilmu komunikasi. hal ini terjadi karena
ilmu psikologi dan ilmu komunikasi memiliki kajian yang sama yaitu sikap,
opini, perilaku, kognisi dan afeksi. Asumsi dasar teori SOR ini adalah penyebab
terjadinya perilaku dalam masyarakat bergantung pada kualitas rangsangan yang
berkomunikasi pada organisme tersebut. Makanya, dalam masyarakat sebuah
perubahan tidak dapat dilakukan tanpa adanya bantuan dari orang luar.
Teori ini
sempat cocok dipakai dalam menerapkan strategi pada masyarakat dalam penyuluhan
atau penyadaran suatu isu. Menurut teori SOR, perubahan sikap serupa dengan
proses belajar individu yakni pesan sebagai stimulus (pesan atau rangsangan)
yang diberikan oleh komunikator kepada komunikan sebagai organisme dapat diterima
atau ditolak. Jika komunikan menolak, maka stimulus (pesan atau rangsangan)
tersebut kurang efektif dan sebaliknya.
Jika komunikan
mengerti maksud stimulus (pesan atau rangsangan) tersebut, menandakan bahwa
proses belajarnya terus berlanjut sehingga setelah komunikan mengerti
maksudnya, komunikan akan mengolah stimulus (pesan atau rangsangan) yang
diberikan oleh komunikator. Sehingga melahirkan proses perubahan perilaku. Teori
SOR ini banyak digunakan dalam berbagai bidang, karena teori ini bertujuan
untuk merubah sikap individu atau kelompok.
Referensi :
Sasa Djuarsa Sendjaja, Memahami Teori
Komunikasi : Pendekatan, Pengertian, Kerangka, Analis, dan Perspektif. Modul.
Santi Indra Astuti. 2003. Cultural Studies dalam Studi Komunikasi : Suatu Pengantar. Jurnal Mediator Vol. 4 No. 1
Comments
Post a Comment